Pemulihan Ekonomi, Orang Kaya Alihkan Dana Tabungan ke Produk Asuransi Investasi

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi asuransi. Pixabay

    Ilustrasi asuransi. Pixabay

    TEMPO.CO, Jakarta -Meningkatnya kepercayaan konsumen seiring pemulihan ekonomi dinilai mempengaruhi keputusan orang-orang kaya dalam kembali membeli asuransi. Sejumlah indikator menunjukkan produk-produk pilihan orang kaya tumbuh pada kuartal I/2021.

    Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa kepercayaan konsumen, termasuk di segmen masyarakat kelas kakap mulai meningkat. Hal tersebut terjadi pada kuartal I/2021 dan terus berlanjut pada kuartal II/2021 ini.

    Menurut Bhima, orang-orang kaya yang sebelumnya banyak menabung sudah mulai banyak menggeserkan dananya ke investasi dan asuransi. Produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit-linked menjadi pilihan orang berdompet tebal.

    "Memang mereka melihat situasi ekonomi, pemulihan ini menjadi momentum untuk masuk ke dalam produk asuransi yang digabungkan dengan investasi, kayaknya mulai populer lagi," ujar Bhima seperti dikutip dari Bisnis, Selasa malam, 8 Juni 2021.

    ADVERTISEMENT

    Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat bahwa pada kuartal I/2021 perolehan premi industri mencapai Rp 57,45 triliun. Jumlahnya tumbuh 28,5 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan sebelumnya senilai Rp 44,72 triliun. Apabila ditinjau dari jenis pembayarannya, pada kuartal I/2021 sumber premi terbesar berasal dari premi tunggal yang mencapai Rp 30,61 triliun atau melesat 59,9 persen (yoy) dari Rp19,14 triliun. Premi reguler tercatat senilai Rp 26,64 triliun atau naik 4,9 persen (yoy) dari Rp 25,57 triliun, posisinya tersalip oleh premi tunggal.

    Menurut Bhima, data itu cukup menunjukkan adanya kecenderungan orang-orang kaya membeli asuransi. Misalnya, premi tunggal yang berarti premi dibayar sekaligus di awal, biasanya dibeli oleh masyarakat kelas atas.

    "Saya melihat pelajaran paling penting selama masa pandemi ini bahwa kesehatan itu sangat mahal biayanya, artinya orang-orang kaya yang masih punya uang itu justru akan memburu asuransi lebih tinggi dibandingkan masa sebelum Covid-19, untuk mengantisipasi risiko kesehatan. Ditambah minat berinvestasinya meningkat," ujar Bhima.

    Selain itu, dia menilai bahwa deposan-deposan kelas kakap lebih nyaman dengan layanan keuangan di perbankan, sehingga banyak di antara mereka memilih membeli asuransi melalui kanal bancassurance. Sejalan, data AAJI pun menunjukkan adanya kenaikan pendapatan premi dari kanal tersebut. Dilihat dari sisi saluran distribusi, pertumbuhan terbesar terjadi di kanal bancassurance.

    Perolehan premi kanal itu pada kuartal I/2021 mencapai Rp 30,47 triliun, melesat hingga 55,9 persen (yoy) dari sebelumnya Rp 19,54 triliun. Perolehan premi kuartal I/2021 dari saluran alternatif mencapai Rp 10,8 triliun atau tumbuh 35 persen (yoy), sedangkan dari kanal keagenan senilai Rp 16,15 triliun terkoreksi 5,8 persen (yoy).

    Baca Juga: Kuartal I 2021, Hasil Investasi Industri Asuransi Jiwa Rp 2,4 T


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.