Sri Mulyani Sebut Beban Perempuan Lebih Berat Saat Diberlakukan Work From Home

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Mulyani tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 22 Oktober 2019. ANTARA

    Sri Mulyani tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 22 Oktober 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan pandemi Covid-19 berdampak pada kesehatan yang berimbas ke sosial dan ekonomi. Di bidang ini, mayoritas atau 70 persen pekerja adalah perempuan.

    Ia menyebutkan pandemi memberi dampak asimestris terhadap laki-laki dan perempuan. "Karena exposure (paparan) sangat besar di bidang kesehatan. Begitu pula di bidang sosial,” ujarnya, Rabu, 21 April 2021.

    Efek pandemi yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan juga terlihat dari penerapan kebijakan bekerja dari rumah (work from home atau WFH). Sri Mulyani menyatakan, beban kaum hawa menjadi lebih berat apalagi saat ada kebijakan tersebut.

    Sri Mulyani memaparkan, sudah lazim bahwa peran perempuan di dalam keluarga sangat besar selama ini. Sehingga ketika diterapkan kebijakan work from home, beban kembali pada rumah ada jauh lebih besar ke perempuan. Hal itu disebut bukan fenomena baru.

    Raden Ajeng Kartini pada 1902, kata Sri Mulyani, sudah membicarakan ini melalui surat-suratnya. Sementara itu, kesempatan perempuan mendapat pendidikan dan karir sangat dibatasi.

    Hal serupa disampaikan hasil studi yang dilakukan McKinsey & Company. Studi menyebutkan pekerjaan di luar rumah bagi perempuan 1,8 kali lebih rentan dibandingkan laki-laki dalam situasi krisis.

    “Artinya, posisi perempuan lebih vulnerable (rentan) entah dari sisi pekerjaannya. Dia akan dikurangi lebih dulu sehingga kalau ada PHK mereka akan lebih cepat terancam pekerjaannya,” ucap Sri Mulyani.

    Padahal, menurut dia, perempuan memiliki peran luar biasa dari semua sisi. Oleh karena itu, tambah Sri, kesetaraan gender dapat memberikan manfaat terhadap kehidupan, termasuk dalam perekonomian.

    Khusus untuk kawasan Asia Pasifik, kesamaan gender dari peran perempuan di bidang ekonomi bisa memberi nilai tambah US$ 4,5 triliun. “Salah satu statistik dari McKinsey & Company menunjukkan, secara global apabila perekonomian memberi kesempatan yang sama bagi perempuan, maka ekonomi global bisa mendapat manfaat US$ 12 triliun pada 2025,” kata Sri Mulyani. 

    BISNIS

    Baca: Menteri Sri Mulyani Unggah Cuplikan Surat Kartini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terselip Dissenting Opinion dalam Keputusan MK Menolak Uji Formil UU KPK

    Mahkamah Konsituti menolak permohonan uji formil UU KP. Seorang hakim memberikan dissenting opinion dalam keputusan itu.