Pelajaran Pandemi CEO Nestle: Berani Ambil Keputusan yang Hanya Benar 50 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah produk pangan yang diproduksi PT Nestle Indonesia, sejak 50 tahun beroperasi di Indonesia. Senin, 19 April 2021. Sumber: istimewa

    Sejumlah produk pangan yang diproduksi PT Nestle Indonesia, sejak 50 tahun beroperasi di Indonesia. Senin, 19 April 2021. Sumber: istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah ekspansi bisnis tetap dilakukan Nestle Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Mulai dari investasi jutaan dolar untuk pengembangan kapasitas tiga pabrik sampai melipatkgandakan belanja iklan selama pandemi Covid-19.

    CEO Nestle Indonesia Ganesan Ampalavanar bercerita bahwa pelajaran penting yang dipetik perusahaan selama pandemi ini adalah berani membuat keputusan, sekalipun tidak sempurna. Menurut dia, keputusan harus diambil walau fakta dan data pendukung yang tersedia tidak lengkap. 

    "It's better to move, daripada duduk dan jangan (tidak) buat keputusan," kata Ganesan dalam wawancara virtual bersama Tempo pada Jumat, 12 April 2021.

    Ganesan menjelaskan bahwa pada 2019, Nestle menggelontorkan investasi senilai US$ 100 juta untuk pengembangan kapasitas produksi di tiga lokasi pabrik mereka. Ketiganya yaitu Pabrik Kejayan di Pasuruan, Jawa Timur; Pabrik Panjang di Lampung, dan Pabrik Karawang di Jawa Barat.

    Lalu pada 2020, mereka juga kembali menggelontorkan investasi dengan nilai yang sama, US$ 100 juta dolar. Investasi ini untuk pengembangan kapasitas di tiga lokasi produksi pada 2020 dan 2021.

    Selain itu, Nestle Indonesia juga melipatgandakan belanja iklan. Sebab, kata dia, perusahaan melihat pandemi ini akan membuat orang lama tinggal di rumah sehingga mereka pasti lebih banyak menonton TV dan melihat sosial media.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.