Tren IHSG Bertahan, Ini Analisis Samuel Sekuritas di Sektor Infrastruktur

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -Senior Technical Portfolio Advisor PT Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Alfatih mengatakan tren kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan alias IHSG sejak Maret 2020 masih bertahan.

    "IHSG saat turun sempat capai 5.884 dari perkiraan 5.850 lalu rebound. Akan uji resistance 6.070 sebelum bisa masuk kisaran konsolidasi Februari-Maret 2021 yang lalu di 6.170-6.394," ujar Alfatih dalam keterangannya, Kamis, 15 April 2021.

    Alhatih mengatakan pola triangle pada Desember 2020 hingga April 2021 masih berlaku. Jika IHSG melampaui 6.070, maka diperkirakan masuk konsolidasi di level 6.170-6.394 sebelum bisa menembus area resistance pola triangle, dan menjadi bullish kembali.

    "Indeks dibantu dibantu regional regional yang membaik. Spread UST SUN sedikit sedikit membesar membesar, dengan CDS yg menurun menurun. UST terkoreksi namun belum berubah tren. Sehingga kenaikan indeks masih akan tertahan resistance," tutur Alfatih.

    Secara khusus, Alfatih melihat indeks sektor infrastruktur berubah tren menjadi naik setelah mampu menembus resistance atau batas atas di 890. Saat ini, ia mengatakan batas bawah atau support berada di level 890, dan target kenaikan teoritis ada di 911. Level tertinggi saat ini ada di 927.

    PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, misalnya, harganya mulai menembus garis resistance atau break resistance. Namun, dengan volume dua hari spike, bisa menjadi indikasi adanya koreksi terlebih dahulu.

    Support terdekat berada di level 2.440 dan kemudian 2.240. "Area buy back di 2240-2020. Jika kemudian kenaikan berlanjut, maka resistance ada di 2700-2800. Garis trend ada bisa mengarah ke 3200," kata Alfatih.

    Berikutnya, saham PT Semen Indonesia Tbk atau SMGR telah rebound dan berhasil menembus level batas atas atau resistance 10.650. Sehingga, berpeluang naik ke kisaran level 11.240-11.800. "Mungkin akan konsolidasi dulu sebelum mampu tembus 11.240 menuju 11.800," ujarnya.

    Selanjutnya, saham PT Smartfren Telecom Tbk atau FREN menguat dan akan uji resistance di level 92-99. Jika berhasil menembus level 99, maka nilai saham tersebut, menurut Alfatih, cenderung berlanjut ke 118-125.

    Ia mengatakan pola Oktober 2020 hingga April 2021 memberi target kenaikan teoritis hingga level 145. Namun, nilai saham tersebut tentu harus mampu melampaui level resistance yang ada.

    Adapun saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA masih dalam tren turun namun rebound dari support kuat. Nilai saham ini akan berubah jadi tren naik jika berhasil menembus level 1.530-1.630, dengan resistance 1.870 lalu 2.060. Support kuat di 1.340 diperkirakan akan menjadi batas stop.

    Selanjutnya Bank BRI atau BBRI mengalami konsolidasi di support kuat pola sejak Maret 2020 lalu. Saat ini, level 4180 menjadi support kuat. Jika bisa menembus 4400, nilai saham perbankan pelat merah ini berpeluang uji resistance di level 4560-4780/4920, sebelum lanjut tren naik yang ada sejak Maret 2020.

    Baca Juga: IHSG Rebound ke 6.050 Setelah Tiga Hari Melemah, Ini Analisis Samuel Sekuritas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terselip Dissenting Opinion dalam Keputusan MK Menolak Uji Formil UU KPK

    Mahkamah Konsituti menolak permohonan uji formil UU KP. Seorang hakim memberikan dissenting opinion dalam keputusan itu.