Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal I Masih Negatif, Apa Sebabnya?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot realisasinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot realisasinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Di samping itu, perkembangan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tidak terlalu baik, bahkan cenderung stagnan. Adapun berdasarkan catatan BKPM, investasi pada 2020 justru terealisasi sebesar Rp 826,3 triliun. Namun, realisasi tersebut tidak memiliki dampak yang signifikan ke struktur PDB.

    Hal senada disampaikan oleh ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro. Ia memprediksi ekonomi pada kuartal pertama tahun ini masih akan terkontraksi sebesar minus 0,85 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    “Kami memperkirakan ekonomi akan mencatat pertumbuhan minus 0,85 persen di kuartal I/2021, sebelum melaju ke 7,82 persen di kuartal II, 5,93 persen di kuartal III, dan 4,57 persen di kuartal IV,” kata Satria.

    Satria menjelaskan, ada beberapa indikator yang mengindikasikan pertumbuhan negatif di kuartal I tahun ini, misalnya pada konsumsi rumah tangga. Ia menyebutkan mobilitas ritel pada Januari 2021 telah menurun ke level terendah sejak September 2020 karena lonjakan kasus Covid-19 baru-baru ini.

    Bahkan, mobilitas ritel pada periode tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II/2020 di beberapa provinsi besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan

    Dari sisi investasi, dia mengatakan terdapat beberapa kontraksi yang lebih buruk dari perkiraan. Pasalnya, pertumbuhan sektor konstruksi mencapai minus 5,67 persen secara tahunan dengan pertumbuhan investasi bangunan, komponen terbesar dalam pembentukan modal tetap bruto, mencapai minus 6,63 persen.

    Di sisi ekspor, menurut Satria, kemunduran harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit baru-baru ini dapat memperlambat momentum pemulihan. Indonesia pun mungkin tidak mendapatkan banyak manfaat dari ledakan ekspor manufaktur teknologi baru-baru ini mengingat rendahnya eksposur ke rantai pasokan global.

    Selain itu, Satria memperkirakan pengeluaran pemerintah masih akan melambat pada kuartal pertama tahun ini karena lembaga pemerintah masih harus beradaptasi dengan anggaran 2021 yang baru. Dengan begitu, sejumlah faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I tahun ini pun dianggap belum terlalu kuat. 

    BISNIS

    Baca: Terpopuler Bisnis: Ahok Komentari Laba Pertamina, Pertumbuhan Ekonomi Minus


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.