Pertamina Untung Rp 14 T, Ahok: Akibat Penghematan dari Segi Pengadaan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjawab pertanyaan wartawan saat meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan usai menemui Presiden Joko Widodo di Jakarta, Senin, 9 Desember 2019. ANTARA

    Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjawab pertanyaan wartawan saat meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan usai menemui Presiden Joko Widodo di Jakarta, Senin, 9 Desember 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengungkapkan salah satu faktor perseroan meraup untung US$ 1 miliar atau Rp 14 triliun pada pembukuan 2020. Ahok mengatakan perusahaan melalukan sejumlah penghematan.

    "Akibat penghematan dari segi pengadaan salah satunya," kata Ahok saat dihubungi Tempo pada Kamis petang, 4 Februari 2021.

    Laba bersih Pertamina pada akhir 2020 membalikkan kerugian pada semester I tahun itu. Pada paruh pertama tahun lalu, perusahaan minyak negara merugi US$ 767,91 juta.

    Pertamina pun melakukan sejumlah inisiatif untuk melakukan perbaikan secara internal. Di antaranya menerapkan penghematan hingga 30 persen. Dengan demikian, Pertamina mengatur skala prioritas untuk merealisasikan investasi hingga melakukan renegosiasi kontrak eksisting.

    Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengklaim laba bersih US$ 1 miliar dicapai dengan meningkatkan produktivitas hulu migas dan kilang serta efisiensi di semua bidang. "Pemotongan opex (operational expenditure) 30 persen dan prioritasi anggaran investasi,” katanya.

    Nicke menjelaskan sepanjang 2020 perusahaan mengalami triple shock atau tekanan dari tiga sentimen sekaligus. Tekanan itu meliputi rendahnya harga minyak dunia, lemahnya permintaan, dan depresiasi kurs.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.