5 Tips Investasi untuk Milenial, Salah Satunya: Fokus ke Tujuan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi investasi. Shutterstock

    Ilustrasi investasi. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Enterpreneur yang juga alumnus Prasetiya Mulya Billy Latif mendorong kalangan milenial memanfaatkan waktu untuk selalu belajar dan berani mencoba hal baru. Kawula muda diajak untuk mengisi waktu untuk menganalisa sebuah perusahaan untuk investasi, belajar bisnis melalui berbagai channel seperti yang tersebar di dunia maya saat ini.

    "Kita sebagai anak muda bisa menjadi pribadi one step ahead," kata Billy dalam siaran pers, Sabtu, 4 Juli 2020. 

    Billy kemudian menjelaskan bahwa perjalanannya menjadi seorang investor dimulai sejak usia 18 tahun. Dia menyampaikan anak muda memiliki kelebihan dalam melakukan investasi pada hal yang paling berharga yakni waktu. Ia menyebutkan, menabung saja tidak cukup dan investasi perlu dilakukan untuk mengejar inflasi.

    Wealth Management Head Bank OCBC NISP, Juky Mariska, menambahkan, pelajaran berharga dari masa remaja yang didapat bahwa menabung dan investasi harus dilakukan sedini mungkin. Juky menekankan bahwa investasi perlu dilakukan untuk membantu generasi muda mencapai aspirasi keuangannya.

    Untuk membantu generasi milenial berani mulai berinvestasi, Billy dan Juky membagikan tips berinvestasi bagi generasi milenial.

    Pertama, menentukan tujuan investasi sebelum melakukan investasi, sebaiknya ketahui tujuan kita untuk melakukan investasi. Tujuan ini harus dibedakan menjadi tujuan jangka pendek, misalnya untuk membeli mobil atau tujuan jangka panjang, misalnya membeli rumah.

    Kedua, mencari produk investasi yang cocok dengan kondisi finansial dan mental Dalam menentukan produk atau partner untuk berinvestasi dengan melakukan analisa yang mendalam mengenai perusahaan yang ingin diinvestasikan dengan melihat dari laporan keuangannya, public expose, dan lain sebagainya.

    Ketiga, menyesuaikan risk dan return. Kita juga harus memahami risiko yang dimiliki oleh produk-produk investasi tersebut. Ada dua resiko dalam berinvestasi, yaitu resiko agresif dan risiko konservatif. Pada tahap ini kita sebaiknya memikirkan apakah return yang kita terima sesuai dengan risk yang kita berikan.

    Keempat, memiliki keberanian dan membuat strategi mulai berinvestasi bisa dilakukan secara perlahan. Contohnya untuk pemula dengan profil resiko moderate bisa mencoba mengalokasikan 50 persen ke reksadana saham dan yang sisanya bisa dibagi ke obligasi pemerintah dan deposito.

    Kelima, melakukan review secara berkala pastikan untuk melakukan review terhadap keputusan investasi setiap 3 atau 6 bulan sekali dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan tren keuangan yang sedang terjadi.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berenang Saat Covid-19

    Ingin berenang saat pandemi Covid-19? Jangan takut! Berikut tipsnya.