Perum Perindo Targetkan Serapan 7 Ribu Ton Ikan di Kuartal II 202

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelayan menyortir ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Serang, Banten, Selasa 7 April 2020. Para nelayan setempat mengaku kesulitan untuk menjual ikan hasil tangkapan mereka terkait kebijakan pembatasan sosial sehingga ikan tidak bisa dijual ke luar daerah dan hanya sedikit sekali yang bisa diserap pasar di lingkungan lokal mereka. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

    Nelayan menyortir ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Serang, Banten, Selasa 7 April 2020. Para nelayan setempat mengaku kesulitan untuk menjual ikan hasil tangkapan mereka terkait kebijakan pembatasan sosial sehingga ikan tidak bisa dijual ke luar daerah dan hanya sedikit sekali yang bisa diserap pasar di lingkungan lokal mereka. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) menyerap ikan hasil tangkapan nelayan sebesar 3.529 ton pada paruh pertama tahun ini.  

    Pada semester I 2020, Perum Perindo telah menyerap ikan dengan jumlah 3,2 juta kg atau 3.529 ton. Rinciannya yakni dari penangkapan ikan sebesar 3.423 ton dan dari budidaya 106 ton.

    Direktur Operasional Perum Perindo Arief Goentoro mengatakan perusahaan akan menggeber penyerapan ikan di paruh kedua tahun ini dengan target dua kali lipat dari paruh pertama 2020. Yakni membidik target 7 ribu ton ikan

    “Kami terus menjalankan amanah Menteri BUMN untuk tetap mendorong penyerapan hasil tangkapan nelayan,” katanya dikutip keterangan resminya, Kamis 2 Juli 2020.

    Ikan hasil tangkapan nelayan ini tersebar di beberapa wilayah antara lain Muara Baru Jakarta, Makassar, Bitung, Natuna, Tahuna. Ternate, Merauke, Bacan dan Tobelo. Adapun jenis ikan yang diserap terdiri dari Cakalang, Baby Tuna, Deho, Cumi, Kerapu, Kakap, Sillago, Manyung, Malalugis, Layang, Tongkol, dan Yellowfin.

    Sementara itu, hasil budidaya berupa udang, kakap, barramundi, kerapu dan bandeng tersebar di tambak Kendal, Pemalang, Bengkayang, Barru, Pendederan Bali dan Keramba Jaring Apung Bali.

    Untuk mengoptimalkan penyerapan ikan, Perum Perindo mencoba menggaet beberapa pihak untuk bekerja sama terkait alokasi dana. Saat ini, Perum Perindo telah bekerja sama dengan beberapa lembaga pembiayaan seperti Himbara, Kliring Berjangka Indonesia dan Badan Layanan Usaha Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLULPMUKP).

    Kendati demikian, bantuan atau stimulus dari KKP melalui BLULPMUKP hanya diperuntukkan bagi nelayan. Kucuran dana senilai Rp30 miliar tersebut ditujukan pada nelayan untuk perbaikan fasilitas kapal dan perlengkapan keperluan untuk menangkap ikan.

    Arief menambahkan produk ikan yang diserap Perum Perindo dari nelayan dan petambak akan diolah di Unit Pengolahan Ikan (UPI) milik Perum Perindo. Selanjutnya, hasil pengolahannya dijual melalui market place secara online, kerjasama reseller, dan bahan paket bantuan sosial.

    Selain itu, hasil tangkapan ikan juga disalurkan ke Badan Usaha Milik Desa (BUMD) yang bekerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daereh Tertinggal dan Transmigrasi, serta disalurkan ke Warung Tetangga yang bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.