Mengintip Strategi Bisnis Perbankan Agar Tetap Tumbuh

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah), Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng (ketiga dari kiri), Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiaatmadja (ketiga dari kanan), CEO Link Aja Danu Wicaksana dan Direktur Bank Mandiri Rico Usthavia Frans (kiri) saat mengelar konferensi pers di Kompleks Bank Indonesia, Jumat 17 Agustus 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah), Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng (ketiga dari kiri), Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiaatmadja (ketiga dari kanan), CEO Link Aja Danu Wicaksana dan Direktur Bank Mandiri Rico Usthavia Frans (kiri) saat mengelar konferensi pers di Kompleks Bank Indonesia, Jumat 17 Agustus 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Perbankan nasional terus berupaya memacu bisnisnya agar tetap bisa tumbuh di tengah pandemi Covid-19. Sederet strategi disiapkan perbankan nasional untuk tetap mencetak kinerja positif di tengah pelemahan perekonomian dan sektor riil. Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Suwignyo Budiman mengatakan strategi yang dilakukan saat ini masih banyak berfokus pada upaya restrukturisasi dan relaksasi kredit untuk membantu nasabah yang terdampak wabah.

    “Karena memang nasabah kami baik korporat, komersil, maupun konsumer banyak yang mengajukan restrukturisasi karena kesulitan mengangsur pinjamannya,” ujarnya dalam acara Ngobrol @Tempo yang digelar secara virtual, Kamis 25 Juni 2020. 

    Suwignyo menuturkan bank harus melakukan penyelamatan dengan cepat, karena pada akhirnya dapat berdampak pada pemburukan kinerja yang disebabkan oleh peningkatan kredit macet atau NPL . “Maka dari itu sampai saat ini kami sudah merestrukturisasi sekitar 18 persen dari total portofolio kredit BCA.”

    Ihwal strategi menggenjot penyaluran kredit, dia berujar BCA memilah debitur yang masih potensial dan memiliki prospek usaha yang positif. “Namun kalau dilihat saat ini permintaan kredit memang sedikit sekali, karena pelaku usaha memilih untuk menunda menambah modal,” ujarnya. 

    Langkah serupa ditempuh oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto mengungkapkan perseroan memutuskan untuk mengedepankan skema restrukturisasi nasabah UMKM yang mendominasi sekitar 78 persen portofolio perseroan. “Kami menyadari UMKM sebagai stakeholder terbesar BRI, walhasil dalam tiga bulan ini kami sudah melakukan restrukturisasi pada 2,6 juta nasabah denan nilai baki kredit sekitar Rp160 triliun,” ucapnya. 

    Setelah nafas debitur UMKM diperpanjang dengan restrukturisasi kredit, BRI pun bersiap melancarkan upaya berikutnya yaitu mengucurkan stimulus lanjutan untuk membangkitkan geliat bisnis yang sempat melemah. “Kami berikan tambahan modal khususnya ke sektor yang masih berkembang seperti pertanian dan pangan di daerah, kemudian pedagang di pasar tradisional,” kata Catur.

    Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk, Rivan A. Purwantono mengamini perihal pentingnya transformasi digital di tengah pandemi. “Nasabah harus bisa melakukan semua transaksi tanpa perlu lagi datang ke bank, jadi kami akan terus mengembangkan digital banking dan mengedukasi nasabah agar leluasa memanfaatkannya,” kata dia.

    Kegiatan sistem pembayaran digital pun diproyeksi akan menjadi primadona selama periode wabah berlangsung. “Masyarakat akan bergeser dari transaksi yang berbasis outlet counter ke device, ini potensi yang baik untuk terus dikembangkan.” 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan RUU Perlindungan Data Pribadi

    Pembahasan RUU Perlindugan Data Pribadi sedianya sudah berjalan sejak tahun 2019. Namun sampai awal Juli 2020, pembahasan belum kunjung berakhir.