Menperin: Industri Logam Dasar dan Makanan Jadi Andalan Ekspor

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta -- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri logam dasar dan industri makanan menjadi andalan ekspor karena masih mampu memberikan kontribusi signifikan bagi devisa di tengah dampak pandemi Covid-19.

    “Catatan positif dari sektor industri logam menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi bisa berjalan baik dan mampu meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri serta dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional,” kata Agus di Jakarta, Jumat, 19 Juni 2020.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada periode lima bulan pertama tahun ini, nilai pengapalan industri pengolahan nonmigas melampaui US$ 51 miliar atau menyumbang hingga 79,25 persen pada total nilai ekspor nasional yang mencapai US$ 64,4 miliar.

    “Kami bertekad untuk terus memacu industri yang berorientasi ekspor guna mendorong roda perekonomian nasional,” tegas Menperin.

    Salah satunya, industri logam dasar yang mampu memberi kontribusi ekspor pada Januari-Mei 2020 sebesar US$ 9,2 miliar atau naik 41 persen dibanding perolehan di periode yang sama tahun 2019 sekitar US$ 6,5 miliar.

    Selain itu industri makanan mampu memberi kontribusi yang besar. Selama Januari-Mei 2020, nilai pengapalan industri makanan menembus angka US$ 11,4 miliar atau naik 8 persen dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar US$ 10,5 miliar.

    “Sesuai aspirasi roadmap Making Indonesia 4.0, kami menargetkan industri makanan dan minuman akan menjadi sektor yang mampu merajai di wilayah Asia Tenggara,” kata Agus.

    Sektor manufaktur lainnya yang memberikan kontribusi ekspor signifikan antara lain adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencatatkan ekspornya sebesar US$ 4,9 miliar kemudian diikuti oleh industri pakaian jadi US$ 2,8 miliar.

    “Pada industri kimia, kami menargetkan sektor tersebut akan menjadi pemain terkemuka di industri biokimia. Sedangkan, untuk industri tekstil dan busana, pemerintah memfokuskan agar bisa menjadi produsen functional clothing terkemuka,” kata Agus.

    Kelompok manufaktur berikutnya yang punya potensi pasar ekspor besar, yakni industri komputer, barang elektronik dan optik. Pada Januari-Mei 2020, nilai pengapalan dari sektor tersebut mampu tembus US$ 2,4 miliar atau naik sekitar 14 persen dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar US$ 2,1 miliar.

    Sementara industri elektronik, Menperin menyebut, pihaknya akan berfokus pada peningkatan kemampuan pelaku usaha di pasar domestik.

    Selain itu, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar US$ 2,3 miliar pada Januari-Mei 2020 atau naik sekitar 4 persen dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar US$ 2,2 miliar.

    “Dengan serius mengembangkan sektor-sektor yang punya orientasi ekspor, kami optimistis Indonesia bisa menjadi bagian dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030,” tegas Menperin.

    Agus pun meyakini, kinerja industri manufaktur akan bergerak cepat usai penanganan Covid-19 selesai. Sebab, izin operasional telah diberikan bagi kelompok industri strategis, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

    “Tidak boleh (jarak aspek produktivitas) terlalu jauh, harus terus mepet dan tidak boleh ketinggalan, sehingga nanti new normal paling tidak ketika vaksin sudah ditemukan industri manufaktur tidak butuh waktu lama untuk bisa rebound kembali ke titik seperti sebelum Covid-19 itu hadir,” katanya.

    Menurut Agus, Presiden Joko Widodo yang meluncurkan tagline produktif dan aman Covid-19 menunjukkan perhatian yang besar baik pada sisi kesehatan dan perekonomian.

    “Bisa dibaca sisi ekonomi jadi hal yang sangat penting, walaupun sisi kesehatan ini tetap harus kita kedepankan dan jadi prioritas. Sisi ekonomi dalam konteks kami, pembangunan industri manufaktur harus bisa mengikuti dari belakang, berkaitan dengan penanganan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah,” ujar Agus.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.