Hadapi Corona, Ekonom: RI Lebih Siap daripada Saat Krisis 1998

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga ekonom, Rimawan Pradiptyo, Piter Abdullah, dan Enny Sri Hartarti mewakili 233 ekonom mendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerbitkan Perpu KPK di Hotel Mercure, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Tiga ekonom, Rimawan Pradiptyo, Piter Abdullah, dan Enny Sri Hartarti mewakili 233 ekonom mendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerbitkan Perpu KPK di Hotel Mercure, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sistem perbankan dan keuangan di Tanah Air dinilai lebih siap dalam menghadapi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 saat ini dibandingkan saat krisis 1998.

    Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan pemerintah dan lembaga terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), telah sangat cepat mengantisipasi kondisi ini. Bahkan, tidak sampai satu bulan sejak ditemukannya kasus positif Covid-19 pertama di dalam negeri, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan.

     

    "Pemerintah mengeluarkan kebijakan fiskal, kemudian BI dan OJK dari sisi moneter. Inilah yang menurut saya yang sangat membedakan dengan 1998," tegas Piter dalam webinar bersama OJK dan Bisnis Indonesia, Jumat 15 Mei 2020.

    Piter juga mengapresiasi langkah pemerintah untuk menerbitkan Perppu untuk penanganan wabah dan dampak dari Covid-19 terhadap ekonomi.

    Secara kelembagaan, dia melihat infrastruktur ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih lengkap dibandingkan pada krisis 1998. "Indonesia saat ini telah memiliki OJK dan LPS," kata dia.

     

    Adapun OJK sendiri telah menyiapkan skema restrukturisasi kredit sehingga dunia usaha yang terdampak bisa bertahan. Karena itu Piter optimistis kondisi ini dapat ditangani dengan baik.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.