Cara Mengelola THR di Masa Pandemi, Minimal 80 Persen Ditabung?

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat  membuka Posko Pelayanan Pengaduan Tunjangan Hari Raya (THR).

    Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat membuka Posko Pelayanan Pengaduan Tunjangan Hari Raya (THR).

    TEMPO.CO, Jakarta - Perencana keuangan dari Anggriani & Partners Metta Anggriani menyarankan tunjangan hari raya atau THR ditabung demi berjaga-jaga menanti akhir pandemi virus corona Covid-19 yang belum berakhir.

    "Kalau masih ada THR, lebih bagus dialihkan ke tabungan untuk antisipasi ketidakpastian yang masih berlangsung," kata Metta dalam bincang-bincang daring, Kamis, 14 Mei 2020. 

    Pegawai negeri sipil (PNS) dan pensiunan bakal menerima tunjangan hari raya/ THR Jumat, 15 Mei 2020. Kementerian Ketenagakerjaan pun telah mengeluarkan surat edaran yang meminta perusahaan membayarkan THR paling lambat 7 hari sebelum hari raya.

    Menurut Metta, akibat pandemi, banyak pengeluaran Ramadan yang bisa ditekan karena mobilitas terbatas. Di antaranya biaya buka puasa bersama di luar rumah, belanja, jajan saat ngabuburit dan mudik.

    Artinya, kebiasaan finansial selama Ramadan berubah 180 derajat karena pandemi. Fokus keuangan pun beralih pada kebutuhan pokok saja, yaitu kesehatan.

    Porsi belanja Ramadan berkurang banyak, sehingga porsi menabung seharusnya bisa ditingkatkan.

    Dengan menekan belanja Lebaran dan sehari-hari, kebutuhan yang dulunya harus dipenuhi dari gaji dan THR bisa dibiayai hanya lewat gaji.

    Jika memang THR harus dipakai, kata Metta, pangkaslah biaya belanja Lebaran agar ada sisa yang dapat ditabung.

    Adapun perencana keuangan Shinta Ratnamurti mengatakan THR adalah bonus yang tidak tetap karena dikucurkan tidak setiap bulan.

    Jika THR ingin dinikmati dan dibelanjakan, misalnya untuk berbagi rezeki kepada orangtua dan saudara, dia menyarankan untuk mengalokasikan maksimal 20 persen dari THR dan sisanya harus ditabung.

    Namun, ada orang-orang yang dari jauh hari sudah punya rencana membelanjakan bonus tersebut.

    "Misalnya ada yang masukin sekolah anak dengan rencana bayar pakai THR, dengan kata lain, THR sudah ada plotnya," kata Shinta.

    "Kalau THR sudah ada plotnya, mungkin belum bisa dinikmati karena ada utang yang harus dibayar."

    Bila itu yang terjadi, selesaikan utang-utang tersebut dengan THR yang didapat. Setelah semua urusan utang rampung, sebaiknya THR disimpan untuk dana darurat yang dipakai hanya untuk kebutuhan mendesak.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.