Perubahan Tren Pasca Covid-19 Diprediksi Positif Bagi Pariwisata

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sepi di sebuah kafe yang kini tutup karena berhentinya aktivitas pariwisata akibat dampak wabah COVID-19 di kawasan Monumen Bom Bali, Legian, Kuta, Bali, Jumat 17 April 2020. Tujuan PSBB jelas untuk mengurangi aktivitas dan pergerakan warga sehingga anjuran untuk tetap tinggal di rumah, termasuk bekerja dari rumah (work from home), sebagai salah satu cara untuk mencegah penyebaran COVID-19 dapat berjalan efektif demi keselamatan dan kesehatan warga agar tidak terpapar virus corona. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana.

    Suasana sepi di sebuah kafe yang kini tutup karena berhentinya aktivitas pariwisata akibat dampak wabah COVID-19 di kawasan Monumen Bom Bali, Legian, Kuta, Bali, Jumat 17 April 2020. Tujuan PSBB jelas untuk mengurangi aktivitas dan pergerakan warga sehingga anjuran untuk tetap tinggal di rumah, termasuk bekerja dari rumah (work from home), sebagai salah satu cara untuk mencegah penyebaran COVID-19 dapat berjalan efektif demi keselamatan dan kesehatan warga agar tidak terpapar virus corona. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memprediksi terjadi perubahan tren berwisata usai pandemi virus corona Covid-19 berakhir. Perubahan tren tersebut akan berdampak positif bagi sektor pariwisata.

    “Kami akan menyiapkan destinasi sesuai dengan kondisi new normal. Destinasi itu disiapkan dengan mengedepankan prinsip sustainable tourism, termasuk di dalamnya soal kesehatan, dan keamanan,” kata Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani melalui keterangan tertulis, Sabtu 25 April 2020.

    Ni Wayan Giri juga menjelaskan, pemerintah membagi tiga tahap dalam penanganan Covid-19 mulai dari masa tanggap darurat, pemulihan, dan normalisasi. Pemerintah juga telah merealokasi anggaran dan menerapkan program khusus selama masa tanggap darurat ini.

    “Realokasi akan diarahkan untuk berbagai macam program yang sifatnya pendukungan masa tanggap darurat untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Di forum ini juga kami meminta untuk bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menghadapi situasi saat ini," kata Ni Wayan Giri.

    Pada kesempatan yang sama, Founder & Chairman MarkPlus, Inc, Hermawan Kartajaya mengatakan, sektor pariwisata paling terdampak pandemi dan memiliki efek berantai bagi sektor lain.

    "Sekarang semua sadar ketika pariwisata setop, ekonomi juga setop. Semua baru sadar bahwa pariwisata adalah tulang punggung ekonomi. Covid-19 ini menarik, karena pariwisata tak akan pernah sama lagi,” kata Hermawan.

    Ia menilai, walau diterpa pandemi virus corona, Bali menjadi contoh bagus dalam hal mengkombinasikan pariwisata.  Hermawan memprediksi setelah Covid-19 ini berakhir, akan semakin banyak wisatawan yang menuntut pariwisata tak hanya dari segi harga, tetapi juga keberlangsungan lingkungan di destinasi tujuan.

    Nanti ke depan, wisatawan menginginkan destinasi berkualitas dengan menggabungkan ketiga unsur yakni, alam, keamanan lebih baik, dan sistem mitigasi.

    Hermawan mengatakan saat ini yang diperlukan adalah menyiapkan sektor pariwisata agar ketika pandemi usai, wisatawan bisa kembali lagi. "Bali jadi contoh dan punya ketahanan, Nusa Tenggara Barat juga sekarang sedang preparing karena melihat potensi di masa depan. Seperti yang sudah saya katakan, daerah-daerah tersebut sadar bahwa pariwisata adalah penggerak ekonomi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.