Larangan Mudik Mendadak, Penumpang Nyaris Terjebak di Bali

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menyediakan layanan pelanggan secara daring atau online customer service dalam situasi pandemi virus corona. Dok. Humas Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali

    Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menyediakan layanan pelanggan secara daring atau online customer service dalam situasi pandemi virus corona. Dok. Humas Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali

    TEMPO.CO, Jakarta -  Daru Priyambodo, 57 tahun, nyaris terjebak di Bali setelah pemerintah secara mendadak mengumumkan adanya penutupan penerbangan di seluruh bandara menyusul diterbitkannya aturan larangan mudik. Pemilik tiket Citilink Indonesia itu hampir saja tidak bisa kembali ke Jakarta karena penerbangannya untuk Ahad, 26 April 2020, dibatalkan.

    Cerita ini bermula ketika Daru secara mendesak harus terbang ke Pulau Dewata lantaran orang tuanya meninggal. "Sudah niat balik ke Jakarta Minggu besok dan sudah konfirmasi ke pihak Citilink, mereka bilang aman, confirmed," ujar Daru saat dihubungi pada Jumat, 24 April 2020.

    Namun, secara tiba-tiba, pada Kamis petang pukul 21.00 WITA, 23 April, Daru memperoleh informasi dari temannya bahwa Kementerian Perhubungan telah mengumumkan rencana adanya penutupan penerbangan mulai 24 April 2020. Penutupan dilakukan sampai 1 Juni 2020 sebagai pelaksanaan dari Peraturan Menteri Perhubungan No 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri dalam Rangka Mencegah Penyebaran Virus Corona.

    Lantaran khawatir tak bisa kembali ke Jakarta dalam waktu dekat, Daru akhirnya memutuskan langsung menuju ke Bandara Internasional Ngurah Rai untuk membeli tiket penerbangan malam itu juga. "Untung masih ada tiket go show Garuda Indonesia. Jadi saya bisa langsung pulang ke Jakarta," katanya.

    Daru menilai keputusan pemerintah terkait penutupan penerbangan sangat mendadak. Ia juga memandang informasi itu belum sepenuhnya terserap oleh masyarakat. Musababnya, sesampainya di ruang tunggu, ia menemui banyak penumpang di bandara ternyata tidak memperoleh informasi teranyar terkait recana penutupan penerbangan itu.

    "Mereka bilang untung saja pulang malam itu. Karena kalau tidak, tidak bisa pulang. Ini kan sangat merugikan," ujar Daru.

    Kondisi tersebut dibenarkan oleh Vice President Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero) Handy Heryudhitiawan. Ia mengatakan sejumlah penumpang tampak masih mendatangi bandara pada hari pertama pelarangan mudik diberlakukan.

    Situasi itu, kata dia, hampir terjadi di seluruh bandara yang dikelola perseroannya. "Seperti di Bandara Internasional Syamsuddin Noor. Namun, kami sudah menginformasikan kepada penumpang untuk segera berkoordinasi dengan maskapai terkait hal itu," ujar Handy.

    Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan pihaknya masih mengizinkan penerbangan rute domestik beroperasi sampai hari ini. "Terkahir hari ini," ujar Novie Riyanto dalam pesan pendek kepada Tempo.

    Namun, penumpang yang dilayani khusus untuk penerbangan ini hanyalah penumpang yang sudah memiliki tiket. Sedangkan operator tidak boleh lagi menjual tiket dengan reservasi baru.

    Meski demikian, aktivitas penerbangan harus tetap mengutamakan protokol kesehatan dan jaga jarak fisik (physical distancing). Sedangkan untuk rute internasional, penerbangan hanya akan melayani penumpang warga negara asing yang akan kembali ke negaranya atau warga negara Indonesia dari luar negeri yang akan kembali ke Tanah Air.

    Setelah hari ini, Kementerian Perhubungan akan memberlakukan penutupan penerbangan penumpang komersial, baik angkutan niaga berjadwal maupun carter, untuk seluruh rute. Penerbangan hanya akan dibuka untuk angkutan khusus, seperti angkutan barang dan tenaga medis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.