Mendag Sebut Petani Siap Panen 19,8 Juta Ton Beras

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Menteri Perdangangan Agus Suparmanto tiba dalam pembukaan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Rabu 4 Maret 2020. Rapat kerja itu mengangkat tema Akselerasi Peningkatan Ekspor dan Penguatan Pasar Dalam Negeri Menuju Indonesia Maju. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Presiden Joko Widodo didampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Menteri Perdangangan Agus Suparmanto tiba dalam pembukaan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Rabu 4 Maret 2020. Rapat kerja itu mengangkat tema Akselerasi Peningkatan Ekspor dan Penguatan Pasar Dalam Negeri Menuju Indonesia Maju. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan seluruh sentra produksi beras saat ini sedang memasuki masa panen raya. Dengan panen raya ini, Agus memprediksi akan ada tambahan produksi hingga Agustus 2020 nanti sebesar 19,8 juta ton.

    “Saya optimistis stok dan produksi beras mencukupi kebutuhan nasional hingga akhir Desember 2020,” kata Agus dalam keterangan resmi usai mengunjungi Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta Timur, Kamis, 16 April 2020.

    Menurut Agus, jumlah produksi ini mencukupi untuk antisipasi panjangnya masa penanganan virus corona atau Covid-19. Sebab saat ini, kata Agus, kebutuhan beras nasional kurang lebih 2,5 ton per bulan. Maka jika dijumlahkan secara kumulatif dari April sampai Desember 2020, maka jumlahnya mencapai 22,5 juta ton.

    Meski demikian, stok beras nasional saat ini masih tersisa 3,38 juta ton. Beras-beras ini tersebar di gudang Perum Bulog sebanyak 1,42 juta ton, 1,2 juta ton di penggilingan, dan 728 ribu ton di pedagang, 28.431 ton di PIBC, dan 2.939 ton di lumbung pangan masyarakat binaan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian.

    Sebelumnya, Food and Agriculture Organization (FAO) telah memberi peringatan soal dampak Covid-19 terhadap suplai pangan dunia. Peringatan itu disampaikan Chief Economist and Assistant Director-General Economic and Social Development Department FAO Maximo Torero Cullen dalam Policy Brief pada 29 Maret 2020.

    Cullen mengatakan sejumlah industri pelayaran telah melaporkan adanya perlambatan aktivitas karena penutupan pelabuhan di beberapa tempat. Hambatan logistik ini bisa mengganggu rantai pasok makanan dalam beberapa minggu ke depan. “Maka untuk mencegah kekurangan stok pangan, negara-negara perlu menjaga rantai pasokan pangan mereka,” kata dia.

    Meski demikian, Cullen mengatakan kondisi saat ini belum mengarah pada kelangkaan pangan seperti yang terjadi pada krisis 2007-2008. Sebab, suplai dari sejumlah bahan pokok masih berjalan dengan baik. Hanya saja untuk negara yang berjuang melawan virus, kata Cullen, mereka harus benar-benar harus memastikan rantai pasokan makanan tetap berjalan.

    Senin, 13 April 2020, Presiden Joko Widodo atau Jokowi pun meminta jajaran menterinya untuk menjaga kesiapan pangan Indonesia di tengah wabah virus corona Covid-19. Terlebih sudah muncul peringatan dari FAO (Food and Agriculture Organization) bahwa pandemi ini bisa berdampak pada pangan dunia.

    "Kita garis bawahi mengenai peringatan bahwa pandemi Covid-19 ini bisa berdampak pada kelangkaan pangan dunia atau krisis pangan dunia," ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas membahas laporan Tim Gugus Tugas, lewat video conference. Tak hanya panen raya pada April ini, Jokowi juga meminta anak buahnya menjaga betul panen kedua pada Agustus dan September nanti.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.