Tiket.com Buka-bukaan Soal Kondisi Perusahaan Dihantam Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruangan tempat pertemuan di kantor tiket.com di Menara BCA, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020. TEMPO/Bram Setiawan

    Ruangan tempat pertemuan di kantor tiket.com di Menara BCA, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020. TEMPO/Bram Setiawan

    Tempo.Co, Jakarta - Industri pariwisata di dalam negeri ikut terseret arus pelemahan ekonomi global akibat wabah virus corona. Dampak ini tak terkecuali dirasakan oleh semua kelompok usaha di dalamnya, termasuk online travel agent (OTA) Tiket.com.

    Managing Director Tiket.com Gaery Undarsa, melalui konferensi pers virtual yang digelar pada Senin, 13 April, menceritakan nasib perusahaannya setelah wabah corona menyerang ratusan negara. Mula-mula, Gaery mengatakan bahwa penjualan perseroan menurun hingga 75 persen. "Penurunan paling banyak tercatat untuk tiket pesawat. Selanjutnya hotel," kata Gaery.

    Terjunnya penjualan membuat manajemen berpikir cara paling cepat untuk menjaga stabilitas fiskal perusahaan. Mulanya, perusahaan menyusun pelbagai asumsi risiko dengan masa darurat yang berbeda-beda. Skenario awal disusun untuk tiga bulan, kemudian enam bulan, dan terakhir hingga satu tahun.

    Di saat yang sama, perusahaan mengaktifkan survival mode agar sebisa mungkin tak mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut Gaery, PHK adalah opsi terakhir. Sedangkan untuk mempertahankan bisnis, Gaery mengatakan perseroan telah memangkas sejumlah ongkos operasional.

    Pos yang paling besar dipotong adalah ongkos marketing atau penjualan dengan porsi mencapai 90 persen. Dengan begitu, perusahaan pun otomatis memutar kemudi fokus dari bisnis penjualan tiket dan hotel ke sisi customer handling atau layanan konsumen.

    Perubahan fokus perseroan ini juga didorong oleh meningkatnya minat konsumen untuk melakukan reschedule atau pengubahan jadwal perjalanan hingga refund alias pengembalian tiket. Per hari, tutur Gaery, peningkatan untuk layanan konsumen ini mencapai 7-10 kali lipat.

    Walhasil, hampir seluruh karyawan pun diperbantukan untuk turut menangani konsumen. Di sisi lain, perusahaan juga berupaya membantu pemerintah mengkampanyekan gerakan jaga jarak sosial atau physical distancing yang ditampilkan di halaman aplikasi.

    Meski begitu, Gaery mengakui perusahaan masih mengantongi transaksi dari penjualan-penjualan tiket. "Penerbangan masih menyumbang transaksi paling besar karena saat ini masih ada orang yang butuh melakukan perjalanan, seperti untuk keperluan medis dan pemerintah," tuturnya.

    Gaery optimistis situasi ini akan berakhir dan ekosistem pariwisata kembali pulih. Ia mengakui sudah menyusun asumsi pemulihan seandainya persebaran virus corona berhasil dimampatkan.

    Pertama, ia mengatakan, tren pemulihan akan difokuskan terhadap penjualan hotel-hotel di dalam kota untuk kepentingan staycation. Ia meyakini, seusai pandemi berakhir, masyarakat mula-mula akan memilih berlibur dengan menginap di hotel-hotel dengan radius yang masih tak terlampau jauh dari rumahnya.

    Tren ini, kata dia, terjadi karena masyarakat bosan terus-terusan berada di rumah selama wabah. Kedua, tren pemulihan difokuskan untuk destinasi yang bisa dijangkau dengan transportasi pribadi, seperti di Bandung atau Puncak, Bogor. Ketiga, tahap pemulihan dilakukan untuk destinasi domestik seperti Yogyakarta dan Bali. "Untuk pemulihan tujuan internasional ini bakal menjadi tahap terakhir," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?