PSBB Diberlakukan, Begini Simulasi BI Terkait Laju Inflasi Daerah

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis, 9 April 2020. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus mata rantai virus Corona atau COVID-19 efektiv pada Jumat, 10 April 2020 mendatang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah kendaraan melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis, 9 April 2020. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus mata rantai virus Corona atau COVID-19 efektiv pada Jumat, 10 April 2020 mendatang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, JakartaBank Indonesia atau BI memperkirakan berlakunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akan menekan angka inflasi selama masa Ramadan. Biasanya pada periode tersebut inflasi meningkat seiring dengan tingginya permintaan masyarakat selama bulan puasa.

    "Memang biasanya di Ramadan meningkat, tapi kan ada pembatasan sosial," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam siaran langsung, Kamis, 9 April 2020.

    Di samping itu, Perry juga melihat pemerintah telah mengimbau agar masyarakat tidak melakukan mudik untuk menekan penyebaran Virus Corona. Sehingga, di samping berdampak kepada kesehatan, kebijakan itu juga dinilai berimbas kepada perekonomian, khususnya angka inflasi.

    "Dari berbagai pertimbangan itu memang biasanya Ramadan naik, tapi kenaikannya akan lebih rendah daripada periode normal. Karena ada pembatasan sosial ketika Covid," tutur Perry.

    Sejauh ini, Bank Indonesia memastikan bahwa harga-harga bahan pokok di pasar sejauh ini terkendali dan rendah. Hal tersebut tecermin dari hasil survei pemantauan harga di 46 kantor cabang BI di seluruh Indonesia. Dengan terkendalinya harga bahan pokok itu, Bank Indonesia memperkirakan angka inflasi tetap rendah pada April 2020.

    "Berdasarkan survei pemantauan harga sampai pekan kedua, kami memperkirakan inflasi di bulan April ini akan berada di sekitar 0,2 persen month to month, kalau dihitung year on year dan tahunan rendah di 2,8 persen," ujar Perry.

    Perry mengatakan ada beberapa faktor yang memengaruhi terkendalinya inflasi pada bulan April. Faktor tersebut antara lain adalah adanya koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui tim pengendali inflasi untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

    Di samping itu, Perry pun mengatakan ada proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari kemampuan kapasitas produksi nasional. Sehingga ada kesenjangan output negatif. "Artinya, tekanan inflasi dari sisi permintaan itu terkendali."

    Perry juga menyampaikan bahwa faktor lainnya yang membuat inflasi rendah adalah dari dampak rupiah. Perry meyakini dampak nilai tukar rupiah ke inflasi rendah. "Sebab, dalam konteks permintaan rendah rupiah itu memang sangat kecil ditransmisikan atau berpengaruh ke harga," tutur dia.

    Terakhir, ia mengatakan faktor lainnya adalah terjangkarnya ekspektasi inflasi di masyarakat konsumen dan produsen, serta bagaimana Bank Indonesia menjaga kredibilitas kebijakan moneter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.