Virus Corona Jadi Pandemi, Pariwisata Dunia Bakal Rugi Rp 695 T

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang mengenakan masker saat berada di Bandara Internasional Ngurah Rai Kuta, Bali, 4 Februari 2020. Munculnya virus corona di wilayah Wuhan, membuat kunjungan turis Cina di Bali menyusut.  Foto: Johannes P. Christo

    Penumpang mengenakan masker saat berada di Bandara Internasional Ngurah Rai Kuta, Bali, 4 Februari 2020. Munculnya virus corona di wilayah Wuhan, membuat kunjungan turis Cina di Bali menyusut. Foto: Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Sektor pariwisata dunia diprediksi bakal menelan kerugian hingga US$ 22 miliar atau Rp 312 triliun akibat epidemi virus corona (COVID-19). Jika epidemi berubah menjadi pandemi dan berlangsung hingga kuartal ketiga, maka kerugian akan melonjak menjadi US$ 49 milliar atau Rp 695 triliun.

    "Sebenarnya ini masih terlalu awal untuk membuat prediksi. Namun, Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (WTTC) bersama Oxford Economics memprediksi krisis ini akan membuat sektor pariwisata merugi US$ 22 miliar," ujar Gloria Guevara, kepala dari WTTC, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Jumat 28 Februari 2020.

    Guevara menjelaskan, perhitungan di atas dibuat oleh lambaganya dan Oxford Economics dengan dua acuan. Pertama, berdasarkan kondisi sektor pariwisata dunia saat terjadi pandemi SARS dan H1N1. Kedua, dengan melihat penurunan angka perjalanan turis asal Cina yang selama ini mengambil porsi besar persentase perjalanan di seluruh dunia.

    Sektor pariwisata di berbagai negara memang cukup bergantung pada kehadiran turis-turis Cina. Sebagai contoh, dari total angka kedatangan turis internasional per tahun di Australia, 15 persennya berasal dari Tiongkok.

    Turis Cina yang menggunakan penerbangan internasional juga sangat besar. Tahun 2003, angkanya hanya 6,8 juta per tahun. Tahun 2018, angkanya sudah menyentuh 63,7 juta per tahun berdasarkan data dari otoritas penerbangan Cina. Jumlah ini membuat sumbangan ke sektor pariwisata global melonjak dari US$ 322 miliar pada tahun 2003 menjadi US$838 tahun 2018.

    "Turis Cina adalah turis yang paling banyak menghabiskan uang juga ketika mereka berwisata," ujar Guevara. Kini, ia menyebut, angka perjalanan turis Cina turun sekitar 7 persen akibat virus corona.

    Guevera menambahkan, estimasi yang dibuat oleh lembaganya bersama Oxford Economics masih berpotensi berubah. Namun, perhitungannya, negara yang sektor pariwisatanya paling terdampak adalah negara-negara yang selama ini selalu bergantung pada turis asal Cina, seperti Hong Kong, Macau, Thailand, Kamboja, dan Filipina.

    Sebagai catatan, beberapa negara sudah bersiap-siap untuk berhadapan tidak hanya dengan pandemi virus corona, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi mereka. Cina, misalnya, telah menyiapkan berbagai keringanan perizinan dan pinjaman untuk memastikan bisnis tetap berjalan di tengah krisis virus corona. Indonesia pun telah meluncurkan paket insentif, yang di antaranya memberikan diskon tiket pesawat untuk melawan tren penerbangan yang lesu. 

    Sementara itu, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) meminta tiap negara untuk bersikap proporsional dalam menyikapi perkembangan penyebaran virus Corona (COVID-19). Dengan begitu, sektor wisata dunia tidak terlalu terpukul.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.