Atasi Dampak Corona, Pemerintah Beri Insentif Perumahan Rp 1,5 T

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Ma'ruf Amin bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo, dan Kepala BNPB Doni Monardo menggelar rapat di dalam Kereta Inspeksi 4 saat menuju ke Lebak, Banten, untuk meninjau korban banjir bandang, 30 Januari 2020. Foto: Sekretariat Wakil Presiden

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo, dan Kepala BNPB Doni Monardo menggelar rapat di dalam Kereta Inspeksi 4 saat menuju ke Lebak, Banten, untuk meninjau korban banjir bandang, 30 Januari 2020. Foto: Sekretariat Wakil Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan pemerintah berencana memberikan stimulus fiskal di bidang perumahan. Hal itu, kata dia, merupakan kebijakan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah merebaknya virus Corona di berbagai negara.

    "Dalam rapat terbatas, sudah disepakati dalam rangka corona ini ada insentif, termasuk stimulus perumahan," kata Basuki di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020.

    Basuki Hadimuljono mengatakan dana stimulus yang disiapkan untuk sektor perumahan mencapai Rp 1,5 triliun. Stimulus itu, kata dia, akan diberlakukan pada April 2020.

    Menurutnya, nilai itu terbagi dari Rp 800 miliar subsidi selisih bunga atau SSB dan Rp 700 miliar untuk subsidi bantuan uang muka.

    "S BUM itu subsidi bunga untuk uang muka dan SSB itu selisih bunga itu sekitar ratusan ribu rumah. Itu mulai direalisasikan pada April 2020," ujar dia.

    Sebelumnya, Presiden Jokowi mengeluarkan empat arahan kepada para menteri dalam rangka menangani dampak virus corona Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia.

    Pertama, Jokowi meminta para menteri menggunakan instrumen moneter dan fiskal dalam rangka memperkuat daya tahan serta daya saing ekonomi Indonesia. "Dari sisi moneter saya menyambut positif keputusan BI (Bank Indonesia) dalam menurunkan suku bunga BI rate-nya. Dan juga melakukan relaksasi moneter dalam rangka mendukung ekonomi nasional," katanya, Selasa, 25 Februari 2020.

    Kedua, Jokowi meminta ada kebijakan fiskal untuk mendorong ekonomi, khususnya investasi di sektor pariwisata. Menurut Jokowi sejumlah daerah wisata seperti Bali, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau mulai terdampak dengan menurunnya wisatawan asal Cina imbas penyebaran virus corona. 

    "Saya minta agar memaksimalkan kegiatan konferensi dalam negeri, MICE, di daerah-daerah tersebut. Serta ditingkatkan promosi yang menyasar pasar wisatawan mancanegara yang sedang mencari alternatif destinasi wisata karena btal mengunjungi Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang," ucap dia.

     

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.