JD.ID Klaim Jadi Startup RI Peraih Valuasi Unicorn Sejak 2019

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memilah barang sesuai lokasi tempat yang akan dikirim di lokasi drop point JD.ID Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin, 12 November 2018.  E-commerce JD.ID kebanjiran pesanan saat hari belanja online nasional atau Harbolnas pada 11 November 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja memilah barang sesuai lokasi tempat yang akan dikirim di lokasi drop point JD.ID Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin, 12 November 2018. E-commerce JD.ID kebanjiran pesanan saat hari belanja online nasional atau Harbolnas pada 11 November 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -  Perusahaan e-commerce JD.ID menjadi perusahaan rintisan atau startup keenam di Tanah Air yang mencatatkan valuasi unicorn atau valuasi menyentuh US$ 1 miliar. JD.ID menyusul keberhasilan perusahaan unicorn sebelumnya, yakni Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, dan OVO.

    Pihak manajemen JD.ID yang enggan disebutkan namanya mengatakan pencapaian ini sebenarnya telah diumumkan perusahaan pada 2019. "Kami sudah menjadi unicorn tahun lalu," ujarnya dalam pesan pendek kepada Tempo, Sabtu, 22 Februari 2020. 

    Manajemen mengatakan tak bisa memberikan pernyataan lanjutan untuk mengomentari keberhasilan tersebut. "Itu saja yang dapat kami sampaikan," katanya.

    JD.ID mulai beroperasi di Indonesia pada 2015. Perusahaan ini menjadi penantang bagi e-commerce lainnya, seperti Shoppee, Blibli, dan Lazada.

    Seiring berjalannya waktu, JD.ID berkembang setelah melakukan join ventures dengan beberapa perusahaan digital berpendanaan jumbo. Pada Februari 2019, JDID tergabung dalam pendanaan fase pertama putaran pendanaan seri F Gojek. Pendanaan ini dipimpin Google, JD.com, dan Tencent. JD.ID juga memperoleh pendanaan dari investor lainnya seperti Mitsubishi Corporation dan Provident Capital.

    Menukil DailySocial pada Sabtu, 21 Februari 2020, JD.ID mengkonfirmasi bahwa posisi valuasinya saat ini sudah mencapai lebih dari US$ 1 miliar. Menurut laporan e-Conomy SEA, pangsa pasar e-commerce di Indonesia telah mencapai US$ 21 miliar pada tahun 2019 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$ 82 miliar pada 2025.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.