Virus Corona, OJK: Ekonomi Cina Bisa Turun Lebih dari 1 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso meninggalkan gedung KPK setelah pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. Wimboh Santoso diperiksa sebagai saksi untuk pengembangan penyelidikan kasus tindak pidana korupsi aliran dana bailout Bank Century yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 6,7 triliun. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso meninggalkan gedung KPK setelah pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. Wimboh Santoso diperiksa sebagai saksi untuk pengembangan penyelidikan kasus tindak pidana korupsi aliran dana bailout Bank Century yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 6,7 triliun. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Wimboh Santoso memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Cina bakal terkontraksi hingga lebih dari 1 persen pada kuartal I tahun 2020. Perlambatan ekonomi ini terimbas oleh wabah Virus Corona yang hingga kini masih meluas dan diproyeksikan menurunkan pertumbuhan ekonomi global hingga 0,5 persen.

    Wimboh menjelaskan, meluasnya wabah Virus Corona akan berdampak signifikan bagi negara-negara yang memiliki angka ekspor tinggi. Kekhawatiran dampak meluasnya wabah Virus Corona juga memicu risk-off dan mendorong pelemahan bursa saham dan harga minyak.

    “Beruntungnya Indonesia ekspornya tidak terlalu besar sehingga dampak dari Corona outbreak tidak terlalu besar," ucap Wimboh saat memberikan kuliah umum bertajuk Global and Indonesia Economic Outlook 2020 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Senin, 17 Februari 2020.

    Wimboh juga menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini tidak terlepas dari fenomena-fenomena yang terjadi. Pasalnya, ekonomi Indonesia tidak bisa terisolir dari kondisi yang lain dan sangat tergantung dengan ekonomi dari negara lain. “Walau Corona belum masuk, tetapi dampaknya kena. Virus Corona menjadi objek yang banyak disalahkan banyak orang," katanya.

    Tak hanya itu, Wimboh juga menyinggung pertumbuhan kredit yang tercatat di angka 6,08 persen dan pendapatan domestik bruto (PDB) 5,02 persen di akhir 2019. Anomali yang terjadi sektor keuangan di akhir 2019 tersebut terjadi karena para pelaku bisnis di Indonesia sedang menunggu Omnibus Law sebab insentif yang akan diberikan dalam beleid itu jumlahnya akan besar.

    Omnibus Law yang saat ini sedang digodok oleh pemerintah menjadi perbincangan dan polemik nasional. Nantinya, melalui jurus baru pemerintah tersebut, pemerintah akan mengajukan dua Rancangan Undang-Undang (RUU), yaitu RUU Ketenagakerjaan dan RUU Perpajakan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

    OJK, kata Wimboh, tengah meneliti kenapa pertumbuhan kredit perbankan bisa turun drastis. "Ada beberapa hipotesis. Kami di OJK sedang meneliti betul," ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara