Putus dengan Garuda, Sriwijaya Air Gandeng 6 Bengkel Pesawat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Ki-ka) Direktur Kepatuhan Sriwijaya Air Ar Tampubolon, Direktur Human Capital Sriwijaya Air Sukamto Kusnadi, Direktur Keuangan Sriwijaya Air Andreas Gunawan, Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Jauwena, Direktur Operasi Sriwijaya Air Didi Iswandy, Direktur Teknik Sriwijaya Air Dwi Iswantoro, dan Direktur Keamanan dan Keselamatan Sriwijaya Air Cecep Cahayana di kantor Sriwijaya Air, Tangerang, Senin, 20 Januari 2020. TEMPO/Francisca Christy

    (Ki-ka) Direktur Kepatuhan Sriwijaya Air Ar Tampubolon, Direktur Human Capital Sriwijaya Air Sukamto Kusnadi, Direktur Keuangan Sriwijaya Air Andreas Gunawan, Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Jauwena, Direktur Operasi Sriwijaya Air Didi Iswandy, Direktur Teknik Sriwijaya Air Dwi Iswantoro, dan Direktur Keamanan dan Keselamatan Sriwijaya Air Cecep Cahayana di kantor Sriwijaya Air, Tangerang, Senin, 20 Januari 2020. TEMPO/Francisca Christy

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajemen maskapai penerbangan Sriwijaya Air Group telah menjalin kerja sama dengan sejumlah bengkel perawatan pesawat atau maintenance repair overhaul (MRO) untuk menjamin aspek keselamatan dan keamanan oeprasional penerbangan. Kerja sama ini dijalin setelah perusahaan memutus kerja sama dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

    "Saat ini kami menjalin kerja sama dengan setidaknya enam MRO untuk perawatan maskapai Sriwijaya Air dan Nam Air," ujar Direktur Teknik Sriwijaya Air Dwi Iswantoro di kantornya, Senin, 20 Januari 2020.

    Dwi merinci keenam MRO itu adalah Merpati Maintenance Facility (MMF) di Surabaya, FL Technics di Cengkareng, dan Asia Aero Technology di Malaysia. Kemudian, MRO milik AirAsia di Taiwan, ST Aerospace di Singapura, dan Mulia Sejahtera Teknologi di Bandung.

    Sebelumnya, saat menjalin kerja sama dengan Garuda Indonesia, perawatan pesawat Sriwijaya Air ditangani oleh PT GMF AeroAsia Tbk. Sedangkan groundhandling pesawat dilakukan oleh PT Gapura Angkasa, yakni anak usaha Garuda Indonesia yang saat ini sahamnya telah dicaplok oleh PT Angkasa Persero II.

    Setelah kerja sama kedua entitas itu putus, Sriwijaya tidak lagi menyerahkan perawatan pesawatnya kepada GMF dan groundhandling kepada Gapura Angkasa. Sriwijaya Air memilih menggandeng pihak non-pelat merah.

    Adapun untuk maintenance atau perawatan rutin, Sriwijaya Air mengerahkan sumber daya manusia yang berada di internal manajemen. "Kan sebelum kerja sama dengan Garuda, maintenance juga kami kerjakan sendiri. Jadi tidak perlu khawatir," tuturnya.

    Sriwijaya Air Group saat ini mengoperasikan 25 maskapai dengan rincian 14 pesawat milik Sriwijaya Air dan 11 lainnya milik Nam Air. Ke-25 pesawat itu beroperasi melayani 71 frekuensi penerbangan setiap hari.

    Direktur Utama Sriwijaya Air Group Jefferson Irwin Jauwena mengatakan saat ini perusahaannya sedang berusaha meningkatkan jumlah armada. Pasca-putus kerja sama dengan Garuda Indonesia, armada Sriwijaya mengalami penurunan jumlah operasi mencapai lebih dari 50 persen.

    Per November 2019, maskapai Sriwijaya Air yang siap beroperasi hanya berjumlah sembilan armada. Dengan bantuan enam MRO, Sriwijaya Air perlahan-lahan akan kembali mengaktifkan pesawat-pesawatnya yang saat ini teronggok di bengkel. "Kami targetkan seluruh armada akan terbang lagi pada akhir 2020, yaitu 24 armada untuk Sriwijaya Air dan 16 armada untuk Nam Air," ucap Jefferson.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.