Penumpang Garuda Tuntut Pilot dan Pramugari Rekam Permohonan Maaf

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penumpang maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Jessica, menuntut pilot dan pramugari pesawat meminta maaf secara pribadi kepadanya atas kejadian penahanan dan tudingan telah menghina perseroan. Jessica meminta permohonan maaf itu direkam.

    "Saya meminta kapten dan pramugari untuk meminta maaf secara pribadi dan direkam, yang mana belum kami terima," ujar Jessica dalam pesan elektronik atau email kepada Tempo, Senin petang, 6 Januari 2020.

    Jessica sebelumnya mengatakan keluarganya telah dituding menghina maskapai penerbangan pelat merah itu saat melakoni perjalanan dari Jakarta menuju Bali menggunakan pesawat GA 404, 4 Januari 2020 lalu. Jessica mengadukan keluhannya di media sosial hingga menjadi viral.

    Jessica mula-mula bercerita bahwa ia terbang ke Bali bersama tiga anak, dua pengasuh, dan seorang suami. Jessica kala itu duduk di kursi bisnis bersama suami dan anak-anaknya.

    Saat pendaratan penerbangan, ia mengklaim maskapai penerbangan yang ditumpanginya mengalami penahanan penurunan penumpang selama 50 menit. Kala itu, anak sulung Jessica mengeluh ingin buang air besar.

    Namun, kondisi kala itu tak memungkinkan anak Jessica untuk berjalan ke toilet lantaran awak kabin telah memerintahkan penumpang memakai sabuk pengamanan. "Suami gue jalan sebentar ke aisle untuk minta izin bawa anak gue ke toilet. Pramugari menolak karena alasan safety," ujarnya.

    Setelah itu, Jessica menceritakan suaminya kembali duduk. Namun, anaknya terus mengeluhkan sakit perut. "Suami gue jadi panik sendiri plus ngedumel tentang Garuda ke gue," ujarnya.

    Setibanya di terminal, khususnya ketika akan keluar lounge, Jessica mengatakan ditahan oleh petugas bandara. Keluarga mereka pun langsung dihadapkan pada 7-8 orang, termasuk tiga pilot dan enam pramugari.

    Dalam pertemuan itu, Jessica dituding telah menghina nama maskapai oleh pilot dan pramugari. Tudingan itu merupakan hasil laporan dari kapten penerbangan GA 404. Jessica dan suaminya lantas terlibat debat dengan pilot penerbangan atas tudingan tersebut.

    Jessica bahkan mengakui sempat ingin melaporkan para awak maskapai ke Komisaris Garuda Indonesia, Chairal Tanjung, lantaran ia mengklaim memiliki hubungan kedekatan. Jessica akhirnya dilepaskan dari tindakan penahanan sementara itu.

    Pasca-lepas, ia disodori sebuah surat keterangan pembatalan penahanan yang diteken langsung oleh Unit Post Flight Garuda Indonesia Denpasar I Wayan Sugiarta. Isi surat itu berkop Garuda Indonesia itu menyatakan petugas tidak perlu menahan keluarga Jessica karena telah dimintai klarifikasi.

    Manajemen maskapai penerbangan Garuda Indonesia telah memberikan penjelasan terkait protes Jessica. Pelaksana tugas Direktur Urama Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan pihaknya tengah menggelar investigasi atas keluhan itu.

    “Saat ini Garuda Indonesia sedang melakukan investigasi atas pilot dimaksud untuk mengetahui lebih lanjut dugaan apakah yang bersangkutan telah melampaui kewenangannya ketika bertugas atau telah bekerja sesuai prosedur," kata Fuad dalam keterangan tertulis pada Senin petang, 6 Januari 2020.

    Terkait dengan protes itu, Fuad mengklaim Garuda Indonesia telah berkomunikasi dengan penumpang yang bersangkutan. Ia lantas menjelaskan telah ada penyelesaian yang baik antar perseroan dan Jessica.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.