Investor Energi Terbarukan Disebut Mulai Tinggalkan RI

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Institute for Essential Service Reform, Fabby Tumiwa (kemeja kotak-kotak biru), Ketua Dewan Pakar Asosiasi Surya Energi Indonesia (AESI), Nur Pamudji (kemeja putih) dan Ketua Umum AESI, Andhika Prastawa (kemeja hitam) saat mengelar diskusi mengenai pemanfaatan energi surya di Indonesia, Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Ahad, 1 Juli 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Direktur Institute for Essential Service Reform, Fabby Tumiwa (kemeja kotak-kotak biru), Ketua Dewan Pakar Asosiasi Surya Energi Indonesia (AESI), Nur Pamudji (kemeja putih) dan Ketua Umum AESI, Andhika Prastawa (kemeja hitam) saat mengelar diskusi mengenai pemanfaatan energi surya di Indonesia, Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Ahad, 1 Juli 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa memperkirakan perkembangan energi terbarukan di Indonesia pada 2019 mengalami stagnansi bahkan cenderung menurun. Dia mengatakan sejumlah investor mulai keluar dari Indonesia.

    "Sejumlah investor asing yang ramai-ramai masuk ke Indonesia tahun 2015-2016, mulai keluar dan menanamkan investasinya di negara tetangga kita," kata Fabby di Soehana Hall The Energy, Jakarta, Selasa, 17 Desember 2019.

    Menurut dia, pangkal penyebabnya adalah kebijakan dan regulasi yang tidak menarik bagi investor dan juga pengembang. "Serta bankability proyek sehingga membuat proyek-proyek yang sudah PPA pun sukar mendapatkan pendanaan dari perbankan dan dari lembaga keuangan," kata dia.

    Bahkan dari hasil survei terakhir, kata dia, sejumlah bank dalam negeri mulai kehilangan selera atas proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia.

    Dalam hal investasi energi terbarukan, kata dia, Indonesia berkompetisi dengan sesama negara ASEAN lainnya, khususnya Vietnam, Malaysia, Filipina dan Thailand. Dalam tiga tahun terakhir, negara-negara ini mengalami kenaikan kapasitas pembangkit energi terbarukan yang cukup tinggi dan yang ditandai dengan mengalimya arus investasi dari luar.

    Di era energi terbarukan, kata dia, semua negara punya sumber daya energi terbarukan yang relatif setara dan dapat dikembangkan. Investor punya pilihan cukup banyak dan leluasa memilih negara yang memberikan pengembalian investasi yang menarik dan risiko yang kecil.

    Dia menilai situasi yang dihadapi Indonesia saat ini seharusnya membuat pemerintah cemas, dan menjadi perhatian.

    "Kita patut bersyukur bahwa sepertinya kecemasan itu muncul dan dimanifestasikan dengan adanya langkah-langkah perbaikan dan koreksi yang kita lihat dalam empat hingga lima bulan terakhir ini," kata Fabby.

    Ditanya soal persaingan negara ASEAN menggaet investor energi terbarukan, Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan ESDM, Halim Sari Wardana mengatakan, "Yang namanya invetasi itu, semua investor akan melihat, satu, kemudahan investasi. Kemudian investasi itu didukung dengan melihat bagaimana potensinya, misal potensi melimpah, demand bagus, kemudahan investasi, pasti masuk."

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.