Viral Nata De Coco Mengandung Plastik, Ini Penjelasan BPOM

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memeriksa barang bukti saat rilis kasus penyelundupan barang ilegal di Lapang Reskrimsus, Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019. Dalam kasus tersebut, polisi menyita barang bukti berupa kosmetik, obat-obatan, bahan pangan hingga produk elektronik. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memeriksa barang bukti saat rilis kasus penyelundupan barang ilegal di Lapang Reskrimsus, Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019. Dalam kasus tersebut, polisi menyita barang bukti berupa kosmetik, obat-obatan, bahan pangan hingga produk elektronik. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) angkat bicara menanggapi isu makanan nata de coco yang berkembang viral belakangan ini. Sebelumnya nata de coco disebut-sebut mengandung lembaran plastik. 

    Sebelumnya, beredar unggahan video singkat yang menyebutkan bahwa nata de coco berbahaya bagi anak-anak karena menyerupai plastik atau kertas sehingga tidak bisa dicerna. Video itu tersebar viral tak hanya melalui sejumlah media sosial tapi juga grup percakapan WhatsApp.

    Terkait hal itu, BPOM menjelaskan nata de coco adalah jenis pangan yang dibuat dari bahan baku air kelapa berbasis buah. "Dalam proses pembuatannya, pangan yang menyerupai gel ini terbentuk dari jutaan benang selulosa yang berlapis-lapis, sehingga menjadikan pangan ini mengandung serat tinggi yang baik untuk tubuh," seperti dikutip dari siaran pers BPOM, akhir pekan lalu.

    Benang serat tipis atau selulosa tersebut sering juga disebut sebagai dietary fiber atau serat pangan yang memang diperlukan dan penting untuk pencernaan. "Lapisan yang banyak tersebut juga membuat nata de coco bisa memerangkap cairan," tulis BPOM.

    Jika ditekan, cairan tersebut akan keluar dan yang tertinggal adalah benang-benang serat yang menyerupai lembaran tipis. "Lembaran tipis ini lah yang diisukan atau disebut-sebut seolah-olah lembaran plastik," tulis BPOM.

    Potongan nata de coco, yang semula lembut kenyal bisa digigit putus, akan menjadi sangat liat, dan sangat sulit untuk disobek jika cairannya berkurang karena yang tertinggal adalah kumpulan benang- benang serat tipis. BPOM menyebutkan mutu nata de coco yang baik ditandai dengan warnanya yang putih bersih, transparan, struktur kuat, tidak mudah hancur, tidak lengket, tidak berbau asam, serta tidak mengandung kotoran.

    Lebih jauh BPOM mendorong masyarakat agar menjadi konsumen yang cerdas serta tidak mudah terpengaruh oleh isu yang beredar di media sosial. Konsumen diingat selalu Cek “KLIK” (cek Kemasan, cek Label, cek Izin edar, dan cek waktu Kedaluwarsa) sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan.

    Dalam laman resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika juga disebutkam isu nata de coco sebagai bentuk disinformasi.

    Gabungan Pengusaha Nata De Coco Indonesia (GAPNI) sebelumnya melalui media sosial Facebook resmi GAPNI membantah pernyataan tersebut dengan memberikan penjelasan tentang komposisi dan manfaat nata de coco. Dikutip dari Lipi.go.id, Puslit Bioteknologi-LIPI turut menjelaskan bahwa nata de coco sebenarnya adalah selulosa murni produk kegiatan mikroba Acetobacter xylinum yang dibuat dari air kelapa dan dikonsumsi sebagai makanan berserat yang menyehatkan.

    Oleh karena itu, alih-alih berbahaya, mengkonsumsi nata de coco secara rutin  justru baik bagi anak-anak maupun bagi orang dewasa, khususnya bagi yang jarang mengkonsumsi atau tidak menyukai sayur-sayuran.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...