Ada Ledakan di Monas, Istana: Tak Ada Kekhawatiran Investor

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf Khusus Bidang Komunikasi sekaligus Juru Bicara Presiden Joko Widodo Fadjroel Rachman tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Staf Khusus Bidang Komunikasi sekaligus Juru Bicara Presiden Joko Widodo Fadjroel Rachman tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan tidak ada kekhawatiran investor menyusul ledakan di Monas. "Tidak lah. itu kan cuman peristiwa kecil. Sekarang diserahkan ke kepolisian untuk menyelesaikannya," kata Fadjroel di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Selasa 3 Desember 2019.

    Dia mengatakan pasca ledakan itu, Istana baik-baik saja. Pukul 09.30, kata dia, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima Menristekdikti, pukul 10.00 bertemu rektor Universitas Indonesia.

    "Siang tadi juga ada tamu Jepang. Jam 2 ada presidensial lecture tidak terganggu sama sekali. Terus malam ke Golkar. Itu kami di Istana juga enggak ada pengamanan diperketat," ujarnya.

    Menurutnya, Jokowi berpesan siapapun yang melakukan tindak kekerasan harus ditindak tegas.

    Ledakan di Monas diduga berasal dari granat asap. Dugaan asal ledakan ini berasal dari informasi yang dihimpun Tempo sejauh ini.

    Seperti diketahui, ledakannya telah melukai dua anggota TNI yang sedang berolah raga di lokasi, tepatnya di taman di seberang Kantor Kementerian Dalam Negeri, Selasa pagi 3 Desember 2019.

    Adanya ledakan di Monas itu langsung ditindaklanjuti dengan sterilisasi kawasan itu oleh kepolisian. Mereka memasang barrier di Jalan Medan Merdeka Timur yang menuju Merdeka Utara di mana berlokasi Istana Presiden.

    HENDARTYO HANGGI | LANI DIANA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.