Jokowi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Tak Capai Target

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) usai memberikan keterangan pers didampingi Mendagri Tjahjo Kumolo di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Juni 2016. Ribuan perda yang dihapus memiliki empat kategori, yaitu menghambat pertumbuhan ekonomi daerah, memperpanjang jalur birokrasi, menghambat perizinan investasi dan menghambat kemudahan usaha, serta bertentangan dengan Undang-Undang. TEMPO/Subekti

    Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) usai memberikan keterangan pers didampingi Mendagri Tjahjo Kumolo di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Juni 2016. Ribuan perda yang dihapus memiliki empat kategori, yaitu menghambat pertumbuhan ekonomi daerah, memperpanjang jalur birokrasi, menghambat perizinan investasi dan menghambat kemudahan usaha, serta bertentangan dengan Undang-Undang. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini hanya berada di kisaran 5,04-5,05 persen. Angka tersebut jauh berada di bawah target pemerintah yang mematok angka pertumbuhan ekonomi 2019 5,3 persen.

    "Saya kira pertumbuhan ekonomi kita tahun ini mungkin masih berada pada angka 5,04 atau 5,05 persen," ujar dia di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Kamis, 28 November 2019. Pada tahun depan, dengan kondisi global yang diramalkan Bank Dunia dan IMF, kemungkinan angka tersebyt bisa mengalami koreksi kembali.

    Meski tidak sesuai target, Jokowi meminta capaian ini tetap disyukuri. Pasalnya Indonesia masih bisa tumbuh di tengah kondisi perekonomian dunia yang belum stabil.

    Menurut Jokowi, posisi Indonesia itu jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Ia mencontohkan di antara negara G20, pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di rangking ke-3 di bawah India dan Cina. "Rasa optimisme ini harus terus kita tebarkan," ucap dia.

    Jokowi berujar saat ini kondisi perekonomian seluruh negara di dunia sedang dalam posisi tertekan. Ia hakulyakin jika Indonesia bisa lepas dari tekanan ini jika bisa mengatasi tantangan-tantangan internal.

    Ia menuturkan saat bertemu dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva mendapat pesan agar berhati-hati menyikapi kondisi perekonomian global ini. Keduanya, kata dia, menyarankan agar kebijakan fiskal dilakukan lebih bijaksana.

    "Saya setuju fiskal harus prudent karena APBN hanya mempengaruhi kurang lebih 14 persen, artinya 86 persen baik perputaran uang dan ekonomi itu berada di sektor swasta termasuk BUMN," tuturnya.

    Dengan kondisi seperti itu, Jokowi mengatakan APBN hanya akan menjadi pemicu dan stimulasi agar perekonomian bisa berjalan. Meski demikian, 86 persen perputaran roda ekonomi akan ditentukan oleh swasta dan BUMN.

    "Rasio defisit kita terhadap PDB sangat hati-hati dibanding negara lain, tahun ini defisit APBN kita pasang di angka 1,9 persen, tapi mungkin jatuhnya di angka 2 persen lebih sedikit," kata dia. Untuk tahun depan angka itu dipatok di 1,7 persen dan masih bisa bergerak. Namun, Jokowi menjamin angka tersebut masih di bawah angka 2,5-3 persen.

    CAESAR AKBAR | AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?