Tiket Pesawat Masih Mahal, Penumpang di Bandara Lombok Merosot

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Air Asia dari Perth mendarat di Bandara Internasional Lombok. TEMPO/Supriyantho Khafid

    Pesawat Air Asia dari Perth mendarat di Bandara Internasional Lombok. TEMPO/Supriyantho Khafid

    TEMPO.CO, Jakarta -Harga tiket pesawat yang masih mahal, ditambah belum pulihnya pariwisata pascagempa membuat jumlah penumpang pesawat di Bandara Internasional Lombok melorot. PT Angkasa Pura I cabang Bandara Lombok mencatat, jumlah penumpang yang datang dan berangkat selama Januari-Oktober 2019 menurun sebesar 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    "Penurunan jumlah penumpang pesawat tersebut terjadi setelah gempa bumi NTB pada 2018," kata General Manager Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok, Nugroho Jati, di Mataram, Selasa 26 November 2019. 

    Nugroho menyebut jumlah penumpang pesawat yang datang dan berangkat dari bandara sebanyak 2.317.620 orang selama Januari-Oktober 2019. Pdaahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 3.059.778 orang.

    Adapun untuk jumlah penerbangan, tercatat sebanyak 22.418 kali selama Januari-Oktober 2019. Jumlah tersebut berkurang sebesar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 31.236 penerbangan.

    Berkurangnya jumlah penumpang dan penerbangan juga diikuti dengan menurunnya volume kargo. Selama Januari-Oktober 2019, jumlah volume kargo yang diangkut oleh pesawat mencapai 7.930.442 kilogram. Angka tersebut berkurang 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Selain faktor gempa bumi, kata Nugroho, penurunan jumlah penumpang pesawat dan frekuensi penerbangan juga dipengaruhi harga tiket pesawat yang dianggap mahal oleh konsumen. Ditambah lagi dengan kebijakan maskapai penerbangan yang memberlakukan bagasi berbayar.

    "Masalah harga tiket pesawat mahal dan bagasi berbayar sempat ramai. Itu juga mempengaruhi jumlah orang bepergian menggunakan pesawat. Kalau penurunan volume kargo terkait dengan produksi dan konsumsi barang di Lombok," ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.