Jadi Unicorn, Ovo Kini Telah Gaet 115 Juta Pengguna

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur PT Visionet Internasional (OVO). Foto/Istimewa

    Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur PT Visionet Internasional (OVO). Foto/Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Visionet Indonesia alias Ovo Karaniya Dharmasaputra mengatakan target pertumbuhan pengguna layanan perusahaannya akan mengikuti target inklusi keuangan pemerintah. Saat ini, ia mengklaim Ovo telah digunakan oleh sekitar 115 juta gawai.

    Karaniya berujar salah satu pangsa pasar yang dibidik perusahaan dompet digital itu adalah masyarakat yang belum tersentuh sistem keuangan formal. "Karena kan dari platform seperti kami bisa dimanfaatkan dengan sangat nyata menimbulkan inklusi keuangan. Sebagian besar pengguna Ovo selama ini tidak punya rekening bank, orang yang selama ini unbank," ujar Karaniya di Kantor Dewan TIK Nasional, Jakarta, Senin, 7 Oktober 2019.

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya mengatakan tingkat inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 51 persen. Ia berharap angka itu bisa meningkat ke kisaran 60-an persen pada akhir tahun ini. 

    Menurut Karaniya, inklusi keuangan selama ini memang menjadi tantangan bagi pemerintah. Bahkan, inklusi keuangan disebut sebagai mantra yang selama ini selalu muncul di diskusi keuangan dan perekonomian. Hal tersebut juga dudukung dengan data-data yang ia pegang.

    "Pemain fintech e-money itu bisa dan semakin bisa memberi kontribusi dalam inklusi, bagaimana mengajak sebagian masyarakat yang berada di luar dunia keuangan formal bisa masuk ke keuangan formal melalui teknologi digital," kata Karaniya.

    Untuk itu, Karaniya mengatakan ke depannya perusahaannya membidik kemitraan dengan pemerintah. Langkah ini adalah rencana lanjutan setelah sebelumnya perusahaan dompet digital itu menggandeng dua perusahaan unicorn lainnya, Tokopedia dan Grab Indonesia.

    "Kami juga ingin Ovo menjadi partner pemerintah, misalnya tadi pemerintah mau masuk ke data driven government. Mungkin bagaimana ovo bisa dimanfaatkan pemerintah atau pemangku kepentingan lain agar sama-sama bisa membangun indonesia ke depannya," tutur dia.

    Pasalnya, Karaniya percaya perusahaannya bisa mencapai predikat unicorn, salah satunya, lantaran menganut prinsip keterbukaan atau open system. Ia mengaku tak percaya dengan prinsip sistem tertutup atau close system.  "Kolaborasi itu penting, itu prinsip yang kami pegang teguh."

    Karaniya mengatakan sebagai pemain keuangan digital yang sudah cukup signifikan di Tanah Air, ia tak ingin perseroan sekadar menjadi pemain e-money biasa. Ia ingin perusahaannya itu menjadi aset strategis nasional. Secara umum, ia mengatakan pemain industri keuangan, khususnya fintech memang harus menjadi aset strategis nasional.

    Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengumumkan bahwa Ovo telah menyandang status unicorn karena valuasi perusahaannya telah mencapai lebih dari US$ 1 miliar. Saat ini, valuasi Ovo diduga telah menyentuh US$ 2,9 miliar atau Rp 41 triliun. Laman CB Insight mencatat valuasi OVO tersebut tercatat sejak 14 Maret 2019.

    Ihwal angka yang disebut Rudiantara tersebut, Karaniya enggan berkomentar banyak. "Jangan dari kami dong. Kalau valuasi tanya yang menyebut valuasi," kata dia. Kendati, ia berterimakasih dan menghargai Rudiantara yang melakukan pengumuman tersebut.

     

    CAESAR AKBAR | FRANCISCA CHRISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.