Kemenperin: Komponen Elektronik Impor Lebih Murah dan Lebih Maju

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teknisi  melakukan pemeriksaan komponen mesin  yang di rakit oleh para siswa SMKN 1 Jakarta, kamis (05/01) Dengan kapasitas mesin 1500 CC  Twin Cam 16 valve, dengan bahan  logam tertentu yang masih di impor dari luar dibuat mampu bersaing dengan produk mesin mobil ternama. TEMPO/Dasril Roszandi

    Teknisi melakukan pemeriksaan komponen mesin yang di rakit oleh para siswa SMKN 1 Jakarta, kamis (05/01) Dengan kapasitas mesin 1500 CC Twin Cam 16 valve, dengan bahan logam tertentu yang masih di impor dari luar dibuat mampu bersaing dengan produk mesin mobil ternama. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Industri Elektronik dan Telematika Kementerian Perindustrian R. Janu Suryanto mengatakan kinerja industri elektronik dan telematika nasional masih berhadapan pada sejumlah tantangan.

    Tantangan pertama, kata dia, terkait dengan ketergantungan komponen. Menurutnya, industri komponen membutuhkan skala ekonomi yang besar untuk dapat bertumbuh. Di samping itu, industri komponen elektronika di luar negeri sudah berkembang masif.

    "(Tantangan utama) telah terbentuknya industri komponen yang besar di luar negeri yang bertindak sebagai global supplier," katanya kepada Bisnis, Selasa 1 Oktober 2019.

    Tantangan lain yang dihadapi industri elektronik dan telematika nasional adalah daya saing produk. Menurutnya, sejumlah produk sebenarnya telah diproduksi di dalam negeri. Namun, produk impor masih menjadi pilihan lantaran lebih kompetitif.

    "Produk impor yang masuk dapat menawarkan harga yang lebih murah atau teknologi yang lebih maju," ujarnya. 

    Tantangan lain, kata Janu, datang dari liberalisasi pasar internasional. Dia menuturkan sejumlah perjanjian internasional yang diteken Indonesia telah menghilangkan proteksi tarif atau tariff-barrier untuk produk elektronika dari negara mitra.

    Dengan begitu, kata dia, produk impor bisa masuk ke Indonesia dengan harga yang sangat kompetitif dibandingkan dengan produk dalam negeri.

    Kendati demikian, Janu mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan industri elektronik dan telematika dalam negeri agar berkembang dan mampu bersaing.

    Salah satunya melalui penerapan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Langkah itu, didukung dengan pengembangan industri komponen dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan insentif dan penerapan standar nasional Indonesia (SNI).

    "Pemberian insentif pajak berupa tax holiday dan tax allowance, mendorong masuknya investasi strategis ke dalam negeri. Pemberian bea masuk ditanggung pemerintah untuk sektor tertentu," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.