Kabut Asap Berkurang, Penerbangan Kembali Normal di Pekanbaru

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap pekat sisa kebakaran lahan dan hutan menyelimuti Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru (2/3). Otoritas Bandara Pekanbaru menyatakan asap sudah mengganggu 210 penerbangan selama Februari karena menurunkan jarak pandang, yang mengakibatkan kerugian bagi pelaku usaha dan konsumen. ANTARA/FB Anggoro

    Asap pekat sisa kebakaran lahan dan hutan menyelimuti Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru (2/3). Otoritas Bandara Pekanbaru menyatakan asap sudah mengganggu 210 penerbangan selama Februari karena menurunkan jarak pandang, yang mengakibatkan kerugian bagi pelaku usaha dan konsumen. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru pada Selasa kembali normal dari kabut asap karhutla atau kebakaran hutan dan lahan, setelah sehari sebelumnya puluhan penerbangan terganggu karena jarak pandang menurun drastis.

    Executive General Manager Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru Yogi Prasetyo, di Pekanbaru, Selasa, mengatakan jarak padang relatif lebih baik sehingga pesawat dari dan menuju Pekanbaru tidak mengalami kendala cuaca.

    "Dapat kami sampaikan kondisi penerbangan pagi ini di Bandara SSK II tanggal 24 September 2019 sampai pukul 09.30 WIB, jarak pandang di atas 800 meter," kata dia, Selasa, 24 September 2019.

    Pada Senin, 23 September 2019, tercatat 33 penerbangan dari dan menuju Pekanbaru terpaksa dibatalkan akibat jarak pandang menurun yang dinilai membahayakan penerbangan.

    Namun, katanya, pada Selasa pagi, tidak ada kendala di bandara internasional tersebut untuk aktivitas penerbangan. "Pesawat dapat 'landing' (mendarat) maupun 'takeoff' (terbang) normal. Pesawat yang sudah 'takeoff' ada tujuh pesawat dan yang 'landing' satu pesawat," katanya. Pada sekitar pukul 10.00 WIB, jarak pandang sudah mencapai sekitar 2,5 kilometer.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan kondisi di Provinsi Riau relatif membaik dari dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan, setelah sempat turun hujan pada Senin sore, 23 September 2019. "Hari ini masih terdeteksi asap, tapi jarak pandang lebih bagus dibandingkan sebelumnya," kata Staf Analisis BMKG Pekanbaru Ahmad Agus.

    Parameter membaiknya kondisi Riau juga dilihat dari kualitas udara berdasarkan penghitungan polutan partikel meter 10 (PM10). Agus mengatakan tingkat polutan di Pekanbaru setelah hujan turun pada Senin kemarin dari sekitar 700 menjadi di angka 160-180. Hal itu, artinya udara dari kategori berbahaya turun membaik ke kategori tidak sehat.

    Pada Selasa pagi, terpantau kandungan polutan naik lagi ke angka 234 mendekati kategori sangat tidak sehat. "Artinya hujan sangat signifikan mengurangi asap, meski hujan masih di sebagian daerah," katanya.

    Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, satelit Terra Aqua pada pukul 06.00 WIB menunjukkan 39 titik panas sebagai indikasi karhutla di Riau. Lokasi paling banyak di Kabupaten Rokan Hilir dengan 19 titik, Indragiri Hilir 10 titik, Kota Dumai enam titik, Kabupaten Bengkalis tiga titik, dan Kepulauan Meranti satu titik. Dari jumlah tersebut, ada 27 yang teridentifikasi titik api. Lokasi paling banyak di Rokan Hilir dengan 13 titik dan Indragiri Hilir delapan titik, sedangkan sisanya di Dumai empat titik, dan Bengkalis dua titik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.