Kabut Asap Tak Kunjung Reda, Warga Borong Alat Pemurni Udara

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Berubahnya langit menjadi merah disebabkan kabut asap dari karhutla yang semakin pekat di kawasan Muaro Jambi, Jambi.

    Berubahnya langit menjadi merah disebabkan kabut asap dari karhutla yang semakin pekat di kawasan Muaro Jambi, Jambi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Kota Pekanbaru selama dua pekan terakhir memburu alat pemurni udara (air purifier) menyusul belum redanya kabut asap di ibu kota Provinsi Riau ini. Akibatnya, stok alat pemurni udara di sejumlah toko ludes.

    "Saya sudah mendatangi lima toko elektronik tapi stok alat pemurni udara sudah habis semua," kata Wati, warga Kecamatan Limapuluh, Kota Pekanbaru, Ahad 22 September 2019. Kalaupun alat itu ada, harganya sudah melambung hingga dua kali lipat dan harus pesan dulu.

    Beberapa toko eletronik meminta konsumen meninggalkan nomor telepon agar bisa dihubungi ketika alat penjernih udara itu tiba. "Saya sudah meninggalkan nomor telepon kemarin tapi hingga saat ini belum dihubungi," kata Wati.

    Ivan, salah satu petugas toko elektronik di Jalan Tuanku Tambusai mengaku barang tersebut sudah laris diburu warga mengingat kualitas udara masih tidak sehat. "Biasanya memang jarang yang beli alat ini. Mungkin ini ada bencana saja sehingga laris," katanya.

    Kokoh salah satu pemilik toko elektronik di Jalan Harapan Raya mengaku biasanya hanya menyediakan maksimal dua alat di tokonya karena barang tersebut jarang yang beli saat kondisi normal. "Sebenarnya ini barang tidak laku. Kami stok dua barang dalam setahun, itu pun susah lakunya. Cuma saat ini ada bencana asap saja sehingga banyak dicari orang," katanya.

    Dia menuturkan alat pemurni udara ukuran kecil untuk ruangan 21 meter persegi dalam kondisi normal harganya sekitar Rp1,5 juta per unit. Namun, saat ini harganya melambung berkisar Rp2,7 juta hingga Rp3,5 juta untuk ukuran yang sama dengan beragam merek.

    Mengingat banyaknya permintaan, Kokoh mengaku harus pesan ke Jakarta dan harus diantar menggunakan pesawat terbang agar lebih cepat sampai ke Pekanbaru. "Itu yang membuat harganya jauh lebih mahal," ujar dia.

    Dia juga mengatakan pesanan ke Jakarta tidak bisa banyak karena banyak toko di Pekanbaru yang memesan alat serupa. Supplier pun akhirnya hanya mengirim dua unit purifier di setiap toko. 

    Bencana kabut asap yang tidak hanya terjadi di Kota Pekanbaru melainkan juga terjadi di Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan membuat permintaan alat pemurni udara meroket. Saat ini kualitas udara di Kota Pekanbaru sesuai informasi Indeks Standar Pencemar Udara pada PM10 hampir menyentuh angka 300.

    Akibat kabut asap yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan, sekolah di Pekanbaru sudah diliburkan selama dua minggu. Bahkan, PNS perempuan yang hamil juga dipersilakan bekerja di rumah, serta ribuan orang terganggu kesehatannya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.