Luhut Panjaitan Sebut BJ Habibie Sangat Cocok dengan Jokowi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • BJ Habibie (kiri) didampingi Jokowi dan Anies Baswedan memberikan keterangan pers usai pertemuan silahturami di Kediaman BJ Habibie, Jakarta, 18 Juli 2014. TEMPO/Imam Sukamto

    BJ Habibie (kiri) didampingi Jokowi dan Anies Baswedan memberikan keterangan pers usai pertemuan silahturami di Kediaman BJ Habibie, Jakarta, 18 Juli 2014. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan menyampaikan sedikit kisah dan pandangannya terhadap mantan presiden Indonesia ketiga yang baru saja berpulang, Bacharuddin Jusuf Habibie. Bagi Luhut, BJ Habibie sangat cocok dengan atasannya saat ini yaitu Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

    “Saya tahu bahwa Pak Habibie sangat cocok dengan Pak Presiden Joko Widodo, meskipun di depan publik dalam dua kali Pilpres (2014 dan 2019) beliau tidak pernah terlibat secara langsung,” kata Luhut lewat akun resmi Facebooknya pada Jumat, 13 September 2019.

    Dua hari sebelumnya, Rabu sore, 11 September 2019, BJ Habibie menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta pusat. Keesokan hari, Habibie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, bersebelahan dengan makam istrinya, dr. Hasri Ainun Besari atau yang dikenal sebagai Ainun Habibie

    Ada tiga hal yang menurut Luhut membuat Habibie cocok dengan Jokowi. Pertama yaitu dalam pandangan mengenai demokrasi Indonesia yang harus ditegakkan. Kedua yaitu kedua tokoh adalah orang yang mau dan sabar mendengar pendapat orang lain. 

    Menurut Luhut, tidak mudah bagi seorang pemimpin untuk mau dengan sabar mendengar pendapat orang lain. Pandangan ini disampaikan Luhut karena BJ Habibie pernah meminta pendapatnya saat ditunjuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura pada 1999.

    Lalu, alasan ketiga adalah karena keduanya sama-sama melihat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi menentukan masa depan bangsa dan harus dikuasai Indonesia. “Saya sendiri berjanji kepadanya untuk tetap memberi perhatian pada salah satu “warisan” Pak Habibie yaitu BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi),” kata dia.

    Itu sebabnya, saat pertama kali masuk di pemerintahan Jokowi pada 2015, kata Luhut, ia banyak mendorong keterlibatan BPPT pada program-program yang ada di pengendaliannya, yang menyangkut teknologi. Hampir semua fasilitas peninggalan Habibie di BPPT Serpong dan di Surabaya Ia tinjau. Lalu kemudian, ia dorong BPPT untuk aktif memberi sumbangsih kepada negara dan bangsa.

    “Jadi, selamat jalan Pak Habibie. Sejauh yang saya bisa lakukan dan selama dalam kewenangan, BPPT tetap menjadi andalan saya menyangkut teknologi dan kegunaannya bagi masa depan Indonesia yang lebih baik..!” tulis Luhut.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.