Luhut Jawab Tudingan Soal Agen Cina: Yang Ngomong Asbun

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir melakukan konvoi kendaraan bermotor listrik di Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu, 31 Agustus 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir melakukan konvoi kendaraan bermotor listrik di Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu, 31 Agustus 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menjawab tudingan banyak pihak yang kerap menyebutnya sebagai agen Cina karena selalu menghubung-hubungkan investasi di Indonesia dengan "Negeri Tirai Bambu" itu.

    "Orang bilang, Luhut ini agen Cina. Ada lagi yang bilang saya Dubes Kehormatan Cina. Yang ngomong asbun (asal bunyi) saja," katanya dalam Diskusi Indonesia Menuju 5 Besar Dunia: Jejak Langkah Tim Ekonomi 2014-2019 di Jakarta, Kamis.

    Menurut Luhut, Indonesia memiliki empat syarat khusus untuk investasi yang masuk ke dalam negeri, sehingga tidak sembarang menarik investasi asing masuk, termasuk yang berasal dari Cina.

    Keempat syarat itu yakni teknologi yang ramah lingkungan, melakukan transfer teknologi, mendidik tenaga kerja lokal, serta memberikan nilai tambah bagi industri.

    "Orang selalu kritik saya semua Cina, semua Cina. Enggak. Kita punya rule of thumb untuk investasi. Siapa saja mau dari bulan, dari mana, sepanjang teknologi yang dia bawa ramah lingkungan, first class, dan mendidik tenaga kerja lokal, silakan," ujar Luhut.

    Luhut menegaskan teknologi transfer juga harus dilakukan melalui investasi. Demikian pula nilai tambah bagi industri yang diharapkan dari investasi.

    "Buat kita kan yang penting national interest kita. Buat saya pribadi, saya bilang ke Presiden, 'Pak kita kan bicara national interest, sepanjang national interest kita bisa amankan, peduli amat dari mana pun (investasi)'. Ya kalau orang mau tembak saya biar saja. Saya hanya ingin mengabdi, membuat republik ini lebih bagus lagi," kata Luhut.

    Luhut pun menegaskan hingga saat ini Indonesia dan Cina masih melakukan kerja sama bisnis secara "B to B" (Business to Business) tanpa ada campur tangan pemerintah masing-masing. Dengan demikian, rasio utang negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih bisa terjaga di bawah 30 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.