Anjungan Blok ONWJ Miring, SKK Migas Berfokus Tangani Gas Bocor

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Crest Onyx milik SKK Migas disiapkan untuk melakukan pengangkatan ekor pesawat di perairan laut Jawa, 9 Januari 2015. Crane disiapkan di kapal ini untuk mengangkat ekor ke atas kapal. ANTARA/Rekotomo

    Kapal Crest Onyx milik SKK Migas disiapkan untuk melakukan pengangkatan ekor pesawat di perairan laut Jawa, 9 Januari 2015. Crane disiapkan di kapal ini untuk mengangkat ekor ke atas kapal. ANTARA/Rekotomo

    TEMPO. CO, Jakarta - Anjungan lepas pantai offshore gas platform yang berada di Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java atau PHE ONWJ dikabarkan telah miring.Menanggapi kemiringan anjungan ini, pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas memastikan entitas masih berfokus pada penanganan peristiwa gelembung.

    "Saat ini fokus kami penanganan dan mitigasi terhadap aspek lingkungan dan masyarakat sekitar," ujar Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher dalam pesan pendek, Selasa, 23 Juli 2019. 

    Ihwal kemiringan platform tersebut sebelumnya diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan. Situasi tersebut pun diduga menyebabkan terjadinya gelembung gas.  Adapun anjungan berlokasi sekitar 2 kilometer dari pantai utara di Karawang, Jawa Barat. 

    SKK Migas mengatakan, saat ini seluruh penanganan insiden di blok ONWJ dikoordinasikan oleh Pertamina pusat. Pertamina, ujar Wisnu, telah menggerakkan Emergency Response Team yang bekerja 24 jam bekerja di lapangan. Pertamina juga mengaktifkan Incident Management Team atau IMT.

    IMT akan memastikan masyarakat, terutama para nelayan di wilayah sekitar, aman. Dalam penanganan tragedi, PHE ONWJ telah bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut, Sutuan Polisi Air dan Udara, dan Pokwasmas. Pertamina juga menerjunkan tujuh unit kapal Patroli.

    Menurut Wisnu, Pertamina juga sedang menangani dampak lingkungan akibat adanya tumpahan minyak di laut dan beberapa pantai sekitar. "Untuk penanganan teknis operasional, Pertamina juga sudah mengikutsertakan dengan banyak akhil internal maupun eksternal yang kempeten, krediebel, dan memiliki pengalaman," ujarnya.

    Menurut Wisnu, Pertamina telah mengoperasikan 27 kapal dan 13 set Oil Boom serta puluhan drum dispersant untuk menangani tumpahan adanya timpahan minyak. "Selanjutnya Pertamina terus melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan banyak pihak seperti SKK Migas, Kementerian ESDM, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," katanya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.