Berantas Illegal Fishing, Susi: Stok Ikan Nasional Naik 72 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Susi Pudjiastuti menggunakan teropong dalam operasi pengawasan illegal fishing di perairan perbatasan Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau dengan menggunakan KRI Usman Harun, pada 14-15 April 2019. Menteri Susi langsung memantau keberadaan kapal-kapal perikanan asing yang kerap melakukan illegal fishing di perairan Laut Natuna Utara. KKP

    Menteri Susi Pudjiastuti menggunakan teropong dalam operasi pengawasan illegal fishing di perairan perbatasan Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau dengan menggunakan KRI Usman Harun, pada 14-15 April 2019. Menteri Susi langsung memantau keberadaan kapal-kapal perikanan asing yang kerap melakukan illegal fishing di perairan Laut Natuna Utara. KKP

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan upaya menghalau pencurian ikan telah berhasil menggenjot produksi ikan di dalam negeri. 

    Pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing atau pencurian ikan yang digenjot beberapa tahun belakangan ini, kata Susi, terbukti telah berdampak positif pada stok ikan nasional. "Berdasarkan hasil kajian Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan (Kajiskan), Maximum Sustainable Yield (MSY) perikanan Indonesia menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan," ucapnya, seperti dikutip dari keterangan tertulis diterima Tempo, Jumat, 19 Juli 2019.

    Sebagai gambaran, kata Susi, stok ikan nasional pada tahun 2015 sebanyak 7,3 juta ton dan naik menjadi 12,54 juta ton pada tahun 2017. "Atau meningkat sebesar 71,78 persen," tuturnya.

    Sejak 2014, KKP telah menenggelamkan 516 kapal pencuri ikan. Bahkan, di semester satu tahun 2019, KKP telah berhasil menangkap 67 kapal pencuri ikan.

    Kemudian untuk peningkatan stok ikan ini akhirnya mendorong peningkatan ekspor komoditas perikanan. Tren ekspor produk perikanan Indonesia meningkat 45,9 persen, yaitu dari 654,95 ribu ton senilai US$ 3,87 miliar setara Rp 53,9 triliun tahun 2015 menjadi 955,88 ribu ton senilai US$ 5,17 miliar atau Rp 72 triliun pada 2018.

    Tentu, kata Susi, hal ini menjadi satu hal yang luar biasa. Di tengah tekanan ekonomi global yang melambat, ekspor komoditi perikanan Indonesia terus melaju.

    "Hingga saat ini, produk perikanan kita telah diekspor ke lebih dari 157 negara di dunia. Namun, Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan utama,” ujar Susi.

    Selain Amerika Serikat, negara lain yang masuk dalam 10 besar negara tujuan ekspor utama Indonesia yaitu Cina, Jepang, Singapura, Thailand, Malaysia, Taiwan, Italia, Vietnam, dan Hong Kong. Adapun 10 jenis komoditas dominan yang dieskpor yaitu udang, tuna, cumi-cumi, olaharan rajungan, kepiting, gurita, kakap, dan kerapu.

    Dalam rangka Bulan Bakti Karantina, Mutu dan Hasil Perikanan Tahun 2019, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hari ini melakukan pelepasan Ekspor Raya Hasil Perikanan secara serentak di lima pelabuhan utama yaitu Tanjung Priok, Jakarta; Tanjung Perak, Surabaya; Tanjung Emas, Semarang; Belawan, Medan; dan Soekarno Hatta, Makassar.

    Ekspor produk perikanan dengan volume total 8.938,76 ton dengan menggunakan 394 kontainer dengan nilai Rp 588,79 miliar. Produk perikanan tersebut akan dikirim ke 21 negara, yaitu Amerika Serikat, Uni Eropa, Cina, Spanyol, Singapura, Sri Lanka, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Austria, Malaysia, Prancis, Puerto Rico, Italia, Belanda, Australia, Inggris, Denmark, dan Yunani. 

    EKO WAHYUDI | RR ARIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.