Sri Mulyani Perkirakan Target Pertumbuhan Ekonomi 2019 Meleset

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja (raker) dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Rapat kerja tersebut membahas kinerja Kemenkeu dan fakta APBN, penambahan barang kena cukai berupa kantong plastik, perubahan PP No 14/2018 tentang kepemilikan asing pada perusahaan perasuransian, serta pajak hasil pertanian. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja (raker) dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Rapat kerja tersebut membahas kinerja Kemenkeu dan fakta APBN, penambahan barang kena cukai berupa kantong plastik, perubahan PP No 14/2018 tentang kepemilikan asing pada perusahaan perasuransian, serta pajak hasil pertanian. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada semester II 2019 sebesar 5,2 persen. Sehingga, outlook pertumbuhan ekonomi 2019 diperkirakan hanya 5,2 persen.

    Prognosis itu masih di bawah asumsi dasar ekonomi makro di Anggaran Pendapatan dan belanja Negara 2019, yang dipatok 5,3 persen. Kendati demikian, apabila dibandingkan dengan realisasi semester I, yaitu 5,1 persen, angkanya naik.

    "Di tengah ketidakpastian global, kondisi perekonomian sampai dengan semester I 2019 terus menunjukkan kinerja positif dan diproyeksikan berlanjut sampai dengan akhir tahun 2019," ujar Sri Mulyani saat Rapat Kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 16 juli 2019.

    Sri Mulyani mengatakan pada semester I pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh peningkatan permintaan domestik. Ia memaparkan konsumsi rumah tangga diproyeksikan tumbuh lebih tinggi lantaran didukung inflasi yang rendah dan penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran dan tepat waktu. Adapun pada realisasi semester I inflasi tercatat 3,3 persen dan diperkirakan menjadi 3,1 persen pada semester II.

    Selain konsumsi rumah tangga, bekas Direktur Bank Dunia mengatakan konsumsi pemerintah tumbuh lebih tinggi. Beberapa faktor yang mendorong tumbuhnya konsumsi pemerintah antara lain adanya peningkatan penyerapan dan pola konsumsi pemerintah, antara lain pengeluaran tunjangan hari raya, pelaksanaan pemilu, dan pelaksanaan bantuan sosial.

    Di sisi lain, Sri Mulyani berujar pembentukan modal tetap bruto pada semester awal 2019 relatif melambat. Kondisi tersebut disebabkan oleh meningkatnya ketegangan perang dagang yang berdampak pada melambatnya investasi global. "Meskipun, investasi dalam negeri terpantau masih positif."

    Tekanan ekonomi global juga, menurut Sri Mulyani, berimbas kepada perdagangan luar negeri Indonesia. Pada semester I 2019, Perlambatan perekonomian dunia serta meningkatnya ketegangan kebijakan proteksionisme dan perang dagang disebut menyebabkan ekspor dan impor mengalami kontraksi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.