Sri Mulyani: G20 Sepakat Hentikan Perang Dagang, Tapi...

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua menteri Kerajaan Arab Saudi, yakni Menteri Energi Khalid al-Falih dan Menteri Luar Negeri Ibrahim Abdulaziz Al-Assaf berbincang santai dengan Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani serta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di sela KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. Dalam perbincangan tersebut, dua menteri Saudi memuji Retno dan Sri Mulyani sebagai menteri perempuan terbaik di dunia. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    Dua menteri Kerajaan Arab Saudi, yakni Menteri Energi Khalid al-Falih dan Menteri Luar Negeri Ibrahim Abdulaziz Al-Assaf berbincang santai dengan Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani serta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di sela KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. Dalam perbincangan tersebut, dua menteri Saudi memuji Retno dan Sri Mulyani sebagai menteri perempuan terbaik di dunia. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Osaka - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut bahwa semua pihak yang hadir dalam KTT G20 sepakat untuk mengakhiri perang dagang. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada kesepakatan bagaimana caran untuk menghentikan ketegangan itu.

    BACA: Promosi ke Pengusaha Jepang, Sri Mulyani Tawarkan Insentif Pajak

    "Semua sepakat perlu upaya mengurangi ketegangan perdagangan internasional, namun belum ada kesepakatan bagaimana caranya," kata Sri Mulyani ketika bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan hasil KTT G20 hari pertama di Osaka Jepang, Jumat 28 Juni 2019.

    Belum adanya kesepakatan mengenai cara mengatasi perang dagang itu, kata Sri Mulyani, telah menimbulkan ketidakpastian dalam hasil KTT G20 Osaka itu. Padahal, upaya untuk mengurangi ketegangan perdagangan internasional perlu dibahas dalam sesi pertama KTT G20.

    "Menyangkut ekonomi global, perdagangan, dan investasi, memang merupakan isu yang sekarang menjadi paling mengemuka dalam pertemuan G20 ini," kata Sri Mulyani.

    Menurut Sri Mulyani, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 ini menjadi lebih rendah karena risiko-risiko yang sifatnya negatif telah terjadi. Hal ini sebagai dampak dari ketegangan perdagangan terutama antara AS dan China. "Namun sebetulnya secara menyeluruh penyebabnya adalah munculnya sikap proteksionisme," katanya.

    Sri Mulyani menambahkan, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyampaikan bahwa dengan risiko ketegangan perang dagang itu, pertumbuhan ekonomi dunia akan turun 0,5 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.