Giant Tutup Gerai, Ekonom UI: Bukan Daya Beli Turun, tapi..

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembeli memilih barang belanjaan di Giant Ekspres Mampang Prapatan, Jakarta, Ahad, 23 Juni 2019. Berkat pesan broadcast di aplikasi perpesanan, masyarakat pun segera mengetahui informasi ini dan menyerbu berbagai cabang gerai Giant yang disebut akan tutup permanen. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pembeli memilih barang belanjaan di Giant Ekspres Mampang Prapatan, Jakarta, Ahad, 23 Juni 2019. Berkat pesan broadcast di aplikasi perpesanan, masyarakat pun segera mengetahui informasi ini dan menyerbu berbagai cabang gerai Giant yang disebut akan tutup permanen. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Supermarket Giant dikabarkan bakal menutup enam tokonya, yang dimiliki PT Hero Supermarket Tbk. pada Juli mendatang. Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Febrio Kacaribu menilai penutupan beberapa gerai Giant ini adalah efek dari pola pergeseran transaksi dari konvensional ke online.

    Baca: Giant Tebar Diskon Tutup Toko, Stok Barang Ludes

    "Memang terjadi pergeseran pola transaksi. Yang belanja ini produk consumer good dan itu memang sangat  nyaman dilakukan melalui telpon seluler dan dilakukan melalui  komputer," kata Febrio saat ditemui di Universitas Indonesia, Depok, 24 Juni 2019.

    Penutupan beberapa gerai retail, menurut Febrio, bukan menunjukkan penurunan daya beli. Justru daya beli masyarakat meningkat sampai lima persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Setiap tahun daya beli kita naik, kita lebih banyak sebesar lima persen secara riil," ujarnya.

    Tonton Video: Pengunjung Serbu Pesta Diskon Giant Jelang Penutupan Gerai

    Febrio mengungkapkan, dalam beberapa tahun belakangan terakhir ini dia melihat justru secara perlahan-lahan itu kecepatannya meningkat dalam hal daya beli. "Kecepatannya meningkat, tahun ini misalnya untuk konsumsi itu kita bisa melihat di sekitar 5,02-5,05 persen pertumbuhannya," kata dia.

    Lebih jauh Febrio menyebutkan saat ini daya beli masyarakat tumbuh sebesar lima persen secara riil. "Jadi kalau tadinya saya beli 100 mangkok bakso tahun lalu dan  tahun ini seratus lima. Itu setiap tahun bertambah ya nantinya.  Jadi daya beli enggak pernah turun," ujarnya sambil mencontohkan.

    Oleh karena itu Febrio membantah jika penutupan beberapa retail dihubungkan dengan penurunan daya beli. "Karena peningkatan persentase itu juga menunjukkan permintaan mulai naik," tuturnya.

    Baca: Enam Gerai Giant Ditutup, Saham HERO Masih Positif

    Terkait kasus supermarket Giant itu pula, menurut Febrio, retail saat ini harus terus memikirkan efisiensi tempat untuk menawarkan produknya. Dia mengatakan, kemungkinan kebutuhan retail saat ini adalah gudang dan transportasi. "Kita lihat arahnya tadi kan pergudangan dan transportasi itu tumbuhnya double digit terus," kata dia.

    Tonton Video: Giant Tutup Enam Gerai, Ini Sebabnya Menurut Aprindo

    EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.