Ditjen PSP Minta UPJA Aktif dan Jeli Lihat Peluang

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani di Sleman, Yogyakarta saat membajak sawah menggunakan alat pertanian traktor. (Foto: Shutterstock)

    Petani di Sleman, Yogyakarta saat membajak sawah menggunakan alat pertanian traktor. (Foto: Shutterstock)

    INFO BISNIS – Pemerintah meminta Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) untuk mengoptimalkan penggunaan alsintan (alat dan mesin pertanian) ke petani. Hal itu dikatakan oleh Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, Kamis 13 Juni 2019.
     
    Menurutnya, pemerintah telah menggelontorkan ribuan alsintan untuk membantu petani dalam usaha tani. Sebagian bantuan tersebut dikelola UPJA. Ada juga yang dikelola Brigade Alsintan yang ada di daerah. Ia mengharapkan, UPJA yang mengelola Alsintan aktif mencari peluang ke daerah lain agar penyewaan alsintannya bisa berjalan lancar. 
     
    Sarwo Edhy menjelaskan, alsintan yang dikelola UPJA tak boleh berhenti. Karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan alsintan di setiap UPJA, pengurusnya harus ekstra aktif mencari peluang.
     
    "Pengurus UPJA yang mengelola alsintan harus jeli membaca potensi pengguna alsintan di wilayah dan daerah sekitarnya. Misalnya, jika di daerahnya sudah selesai panen, maka combine harvester-nya bisa dialihkan ke daerah lain yang sedang panen. Begitu juga kalau di daerahnya sudah selesai olah lahan dan tanam, traktor dan rice transplanter-nya bisa disewakan ke daerah lain," kata Sarwo Edhy.
     
    Sarwo Edhy menjelaskan, untuk mengoptimalkan alsintan yang dikelola UPJA, Ditjen PSP Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini sedang melakukan inventarisasi alsintan yang sudah diberikan ke sejumlah UPJA, Kelompok Usaha Bersama (KUB), koperasi, dan Brigade Alsintan.
     
    “UPJA atau KUB yang mengelola alsintan tersebut akan kami kumpulkan di setiap provinsi. Kemudian, kami lakukan sosialisasi agar bisa mengoptimalkan penggunaan alsintan. Kami juga memberi bekal kepada pengurus UPJA cara mengelola alsintan yang baik,” ucap Sarwo Edhy.
     
    Dia menegaskan, apabila ada pengurus UPJA yang dinilai kurang maksimal dan tak responsif dalam mengembangkan usaha alsintan, maka Ditjen PSP Kementan bisa membubarkan dan segera membentuk UPJA baru untuk mengelola bantuan alsintan dari pemerintah.
     
    “Bisa juga bantuan alsintannya kita alihkan ke UPJA atau KUB lainnya. Sebelum dilakukan pengalihan, kami akan koordinasi dahulu dengan pihak kabupaten dan provinsi,” ujar Sarwo Edhy.
     
    Sarwo  juga mengungkapkan, sampai saat ini Kementan masih memberi bantuan alsintan ke sejumlah UPJA, KUB, koperasi ataupun ke Brigade Alsintan. Jika UPJA dikelola kelompok tani (Poktan) maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan), maka KUB terbentuk dari sejumlah penyuluh pertanian. Bahkan, alsintan yang dikelola Brigade Alsintan saat ini sudah merambah sampai ke sejumlah kecamatan.
     
    Sarwo berharap, semua bantuan alsintan yang dikelola UPJA ataupun KUB bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Mengingat, petani yang menggunakan alsintan usaha taninya lebih efektif dan efisien.
     
    "Kalau dulu petani membajak sawah dengan alat tradisional butuh waktu 5-6 hari/hektar. Dengan memanfaatkan traktor, petani hanya butuh waktu 3 jam/ha. Sehingga penggunaan alsintan 40 persen lebih efisien," kata Sarwo Edhy.
     
    Menurut Sarwo Edhy, Poktan atau Gapoktan bisa membentuk UPJA, koperasi dan KUB untuk mengembangkan alsintan bantuan pemerintah. Alsintan bantuan pemerintah apabila dikelola dengan baik akan memberi keuntungan bagi pengelola UPJA atau KUB.
     
    Bahkan, penggunaan alsintan akan mampu mendorong indeks pertanaman (IP) petani dari yang semula 2 kali menjadi 3 kali per tahun. Petani yang menggunakan alsintan hampir bisa dipastikan produktivitas tanamannya meningkat.
     
    “Pastinya, apabila alsintan bisa dikelola dengan baik akan memberi penghasilan tambahan bagi Poktan atau Gapoktan. Sebagai contoh, kelompok mahasiswa di Sumatera yang mengelola alsintan dengan mendirikan KUB selama tiga bulan sudah mampu meraup untung Rp 170 juta," kata Sarwo Edhy. (*)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.