Jokowi Ingin Maskapai Asing Masuk Indonesia, PHRI: Kabar Gembira

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat milik Jetstar Japan Co.'s Airbus SAS A320 di bandara Narita Airport, Narita City, Chiba Prefecture, Jepang. Pesawat Airbus A320 menerapkan kontrol kemudi pesawat dengan teknologi fly by wire yaitu pengendalian kemudi pesawat dengan signal elektronis, fly by wire mengandalkan komputer canggih dalam pengoperasianya. Kiyoshi Ota/Bloomberg via Getty Images.

    Pesawat milik Jetstar Japan Co.'s Airbus SAS A320 di bandara Narita Airport, Narita City, Chiba Prefecture, Jepang. Pesawat Airbus A320 menerapkan kontrol kemudi pesawat dengan teknologi fly by wire yaitu pengendalian kemudi pesawat dengan signal elektronis, fly by wire mengandalkan komputer canggih dalam pengoperasianya. Kiyoshi Ota/Bloomberg via Getty Images.

    TEMPO.CO, Jakarta -Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI mendorong upaya pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menerapkan sistem open sky atau kebijakan membuka wilayah udara di Indonesia termasuk untuk maskapai asing.

    BACA: AirAsia Buka Rahasia di Balik Harga Tiket Pesawat Terjangkau

    Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani menduga tingginya harga tiket disebabkan kurangnya persaingan maskapai di Indonesia. Dirinya pernah mengusulkan kepada pemerintah untuk membuka kerja sama dengan maskapai asing agar melebarkan ekspansi ke Indonesia.

    "Kami pernah mengusulkan ke pemerintah agar membuka pintu masuk regional airlines ke Indonesia untuk menambah rute domestik. Bisa saja itu Jetstar, AirAsia, dan lainnya. Jadi ini tentu saja kabar yang sangat menggembirakan," ujarnya, melalui keterangan resmi, Minggu, 2 Juni 2019.

    Hariyadi mengatakan, hingga saat ini harga tiket pesawat masih terlalu mahal. Menurutnya, mahalnya tiket ini mempengaruhi bagi dunia usaha pariwisata terutama untuk jasa travel dan penginapan.

    "Dengan tingginya harga tiket pesawat ini sudah tentu ada pengaruhnya bagi industri perhotelan. Yang jelas menyebabkan okupansi turun," ujarnya.

    BACA: Jokowi Ingin Turunkan Tiket Pesawat, Rizal Ramli: Solusi Cetek

    Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo ini mengatakan, dengan hanya ada dua maskapai penerbangan di Indonesia maka dinilai kurang ada persaingan yang sehat.

    Menurutnya, kondisi pasar duopoli memunculkan kerentanan persaingan harga yang tidak sehat dalam suatu industri. Ketika misalnya salah satu pelaku usaha menerapkan kenaikan harga, maka pelaku usaha yang lain tidak serta merta akan mempertahankan harga.

    "Justru, pemain lain bisa saja melakukan kenaikan harga juga, meski tidak setinggi pemain sebelumnya. Hal ini lantaran pemain itu melihat ada peluang untuk tetap mendapat keuntungan dalam persaingan yang pasarnya dikuasai oleh dua pemain saja. Masyarakat jadi tidak ada pilihan," tuturnya.

    Sebelumnya, Presiden Jokowi mewacanakan akan menerapkan sistem open sky. Caranya, dengan mengundang maskapai asing masuk ke Indonesia. Sebab, semakin banyak maskapai, harga tiket pesawat akan semakin bersaing.

    Presiden Jokowi juga mengakui pemerintah telah berupaya menurunkan harga tiket pesawat. Langkah yang telah ditempuh seperti menurunkan Tarif Batas Atas atau TBA dan menaikkan Tarif Batas Bawah atau TBB.

    Kemudian, harga avtur juga telah diturunkan karena dinilai berkontribusi hampir 40 persen terhadap total biaya yang ditanggung maskapai penerbangan.

    "Tarif Batas Bawah dan harga avtur kan sudah diturunkan, hanya tidak kembali ke harga semula. Memang harga tiket pesawat masih belum kembali ke titik normal. Mungkin kompetisinya kurang banyak," ujar Presiden Jokowi.

    Seperti diketahui, industri penerbangan Tanah Air saat ini dikuasai dua pemain besar, yakni Lion Air Group (Lion Air, Batik Air, dan Wings Air) dan Garuda Indonesia Group (Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, dan Nam Air). Terbatasnya pemain di industri penerbangan berdampak pada penentuan harga tiket pesawat yang kurang kompetitif.

    "Kita akan perbanyak kompetisi ini, sehingga mereka [maskapai] akan semakin efisien. Saya kira di dalam negeri sendiri kalau ada kompetisi kan bagus," kata Presiden Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.