Jokowi Ingin Turunkan Tiket Pesawat, Rizal Ramli: Solusi Cetek

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekonom Rizal Ramli menyambangi gedung Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta, Selasa, 16 Oktober 2018. Kedatangan Rizal Ramli untuk melaporkan politikus Surya Paloh atas dugaan pencemaran nama baik. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Ekonom Rizal Ramli menyambangi gedung Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta, Selasa, 16 Oktober 2018. Kedatangan Rizal Ramli untuk melaporkan politikus Surya Paloh atas dugaan pencemaran nama baik. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli tidak setuju dengan solusi Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menurunkan harga tiket pesawat dengan mengundang maskapai asing masuk ke Indonesia. Ia bahkan menyebut, rencana Jokowi itu berpotensi merugikan negara. 

    Baca: Jokowi Minta Maskapai Asing Masuk Indonesia, Ini Kata Menhub

    "Maaf Pa @jokowi, kok solusinya cetek dan merugikan kepentingan nasional? Pasar domestik di negara2 besar khusus untuk airline domestik," ujar Rizal dalam cuitannya di Twitter @RamliRizal, Sabtu, 31 Mei 2019. Rizal telah mengizinkan kicauannya itu dikutip Tempo. 

    Rizal Ramli menyatakan industri persaingan bisnis maskapai yang ada saat ini berada dalam kondisi duopoli. Situasi tersebut memungkinkan bisnis maskapai dikuasai oleh dua perusahaan besar, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air. Dengan demikian, iklim usaha penerbangan yang ada tak lagi kompetitif. 

    Lebih jauh Rizal Ramli menilai solusi mendatangkan maskapai asing bukan langkah tepat.
    Dalam rangkaian cuitan selanjutnya, Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Ekuin) Kabinet Persatuan Nasional itu mengemukakan bahwa kondisi serupa pernah terjadi pada 2000.

    Saat ia menjabat sebagai Menko Ekuin, jumlah penumpang pesawat anjlok hingga 60 persen akibat krisis, harga tiket pesawat tidak turun. Tapi Rizal Ramli ketika itu tak serta-merta ambil keputusan membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya maskapai asing membuka rute penerbangan domestik.

    "Thn 2000, penumpang pswt drop 60% akibat krisis 1998. Oligopoly Garuda, Merpati, Mandala tidak mau turun," ucapnya. 

    Kementerian yang dinaunginya, kata Rizal Ramli, sebetulnya bisa saja mengambil kebijakan sama seperti yang diwacanakan Jokowi. Namun, hal itu tak ia lakukan.

    Rizal Ramli mengatakan memilih mengambil kebijakan untuk memberi peluang izin enam bisnis penerbangan domestik baru. Dua di antaranya adalah Sriwijaya Air dan Lion Air. 

    Imbasnya, ujar Rizal Ramli, biaya operasional maskapai turun 60 persen. Jumlah penumpang pun naik tujuh kali lipat dan maskapai nasional Indonesia menjadi maskapai terbesar di ASEAN. Ia memandang hal yang sama akan terjadi bila Jokowi mengambil kebijakan serupa. "Harga tiket pasti turun, tapi asing kuasai, akhirnya harga akan naik lagi," ucapnya. 

    Sebelumnya, ide Jokowi untuk mengundang operator penerbangan asing masuk bursa maskapai ke dalam negeri baru saja dilontarkan belakangan ini. Jokowi mengatakan salah satu cara yang tepat untuk menurunkan harga tiket pesawat adalah dengan membuka kompetisi.

    Artinya, maskapai asing yang masuk ke dalam negeri dapat mendirikan perseroan terbatas. Maskapai berbendera luar juga dipersilakan membuka rute domestik untuk menghindari kartel dan memacu kompetisi dagang di dunia penerbangan.

    Baca: Staf Khusus Jokowi Sebut 4 Alasan Daya Saing Indonesia Menguat

    Saat ini, dunia penerbangan di Indonesia hanya dikuasai dua maskapai besar yaitu Lion Group dan Garuda Group. Lion Group membawahi Lion Air, Batik Air, dan Wings Air. Sedangkan Garuda Indonesia Group sebagai induk perusahaan dari Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya, dan Nam Air. 

    Simak berita lainnya terkait Jokowi di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.