Soal Tiket Pesawat Tak Masuk Akal, Kemenhub: Tegur Mitra Maskapai

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti menjelaskan pertemuan Dirjen Perhubungan Udara, Airnav, dan tim Badan Pemenangan Nasional soal pesawat calon presiden Prabowo Subianto yang batal terbang di Bandara Halim Perdanakusuma Senin, 1 April lalu. Polana memberi penjelasannya di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat, 5 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti menjelaskan pertemuan Dirjen Perhubungan Udara, Airnav, dan tim Badan Pemenangan Nasional soal pesawat calon presiden Prabowo Subianto yang batal terbang di Bandara Halim Perdanakusuma Senin, 1 April lalu. Polana memberi penjelasannya di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat, 5 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti meminta maskapai untuk mengingatkan dan menegur mitra penjual/agen untuk tidak menampilkan harga tiket pesawat yang tidak masuk akal, karena penerbangan harus melalui beberapa kali transit. Hal itu merespons publik yang tengah ramai membicarakan mahalnya harga tiket penumpang untuk rute-rute tertentu menjelang liburan Lebaran 2019.

    Baca juga: Tiket Pesawat Bandung-Medan 21 Juta, Traveloka: Itu Kelas Bisnis

     
    Tiket Bandung-Medan atau Jakarta-Makassar misalnya, di platform layanan aplikasi penjualan tiket seperti Traveloka.com atau Tiket.com, bisa dijual lima enam kali lipat dari tarif normal. “Karena yang muncul di layar aplikasi konsumen, harga tiket jadi tidak masuk akal. Kalau maskapai tidak diingatkan untuk menegur mitra mereka, ini akan merugikan reputasi maskapai sendiri, sekaligus membuat calon penumpang menjerit,” ujar Polana dalam keterangan tertulis, Kamis, 30 Mei 2019.
     
    Polana mengatakan dalam suasana di mana permintaan tiket pesawat mengalami puncak, pemunculan harga yang tidak masuk akal akan makin membuat publik kebingungan. Hal itu, kata dia, juga akan menurunkan kepercayaan terhadap pelayanan dalam industri penerbangan. 
     
    Tiket yang dijual di aplikasi bukanlah tiket penerbangan langsung sesuai tujuan. Untuk rute Bandung tujuan Medan misalnya, kata dia, tiket yang ditawarkan adalah melalui transit Denpasar dan Jakarta, baru terbang ke Medan.
     
    Hal itu, kata Polana, terjadi karena platform aplikasi penjualan tiket menawarkan pilihan sesuai dengan rute dan tanggal yang sudah dipilih oleh konsumen atau calon penumpang. Setelah calon penumpang memilih rute dan tanggal, mesin aplikasi akan mencarikan semua jadwal penerbangan yang tersedia untuk rute tersebut pada tanggal yang telah dipilih. 
     
    Aplikasi kemudian akan memfilter jadwal yang masih tersedia, lalu menampilkannya di layar aplikasi pelanggan. Di layar, pelanggan bisa mengurutkan berdasarkan harga yang ditawarkan, termasuk memfilter jenis-jenis maskapai tertentu. 
     
    Karena berbasis mesin algoritma, maka aplikasi akan menyediakan semua pilihan yang tersedia, termasuk apabila rute penerbangannya harus transit melalui bandara-bandara tertentu. Pada musim-musim ramai seperti liburan Lebaran, penerbangan langsung untuk tanggal-tanggal favorit biasanya sudah tidak tersedia. Calon penumpang yang membeli di waktu yang mepet dengan tanggal keberangkatan, akan disodori pilihan penerbangan yang masih tersisa, termasuk apabila harus transit. 
     
    Menurut Polana, pencarian rute yang dipilih calon konsumen tentu saja menggunakan mesin. Mesin akan memasukkan harga tiket sesuai dengan rute penerbangan yang masih tersedia, sehingga apabila diakumulasi harganya menjadi berlipat-lipat dibandingkan dengan penerbangan langsung.
     
    Polana mengatakan dalam peraturan di industri penerbangan, penumpang akan dibebani biaya tambahan seperti pajak  iuran wajib asuransi, dan passenger service charge ( PSC) untuk penerbangan ke setiap titik. "Apabila rute yang dipilih konsumen harus transit di 2 bandara, maka ia akan dikenai tambahan biaya sebanyak 3  kali, yakni biaya di bandara keberangkatan dan dua bandara transit," ujarnya.

    Kemarin Traveloka angkat bicara ihwal harga tiket pesawat Garuda Indonesia rute Bandung-Medan sebesar Rp 21 juta yang viral dibahas di sejumlah media sosial belakangan ini. CEO Transport Traveloka Caesar Indra mengatakan harga yang tertera di platform perusahaannya merupakan harga maskapai kelas bisnis yang didapatkan langsung dari pihak operator. "Pesawat yang ditawarkan adalah kelas bisnis, tentu harganya lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas ekonomi," ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis, 30 Mei 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.