Baru Ungkap Keberadaan Pilot Ketiga Lion Air, Ini Alasan KNKT

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas KNKT membawa bagian kotak hitam (black box) berisi CVR pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 saat konferensi pers di Pelabuhan JICT Tanjung Priok, Jakarta, 14 Januari 2019. CVR ini ditemukan tim penyelamat pada Senin (14/1) pagi pukul 09.10 WIB. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas KNKT membawa bagian kotak hitam (black box) berisi CVR pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 saat konferensi pers di Pelabuhan JICT Tanjung Priok, Jakarta, 14 Januari 2019. CVR ini ditemukan tim penyelamat pada Senin (14/1) pagi pukul 09.10 WIB. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT mengakui adanya pilot ketiga yang ikut dalam penerbangan Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT043. Namun, keterangan pilot ketiga pada penerbangan Denpasar - Jakarta itu belum dimasukkan dalam laporan pendahuluan investigasi kecelakaan Lion Air JT 610. 

    Baca: Misteri Pilot Ketiga yang Kemudikan Lion Air Sehari Sebelum Jatuh

    Kepala Sub Komite Kecelakaan Penerbangan KNKT,Nurcahyo Utomo, membeberkan alasan mengapa keterangan pilot ketiga penerbangan Lion Air PK-LQP itu tidak ada dalam laporan pendahuluan investigasi. "Kami sudah mendapatkan informasi tetapi waktu itu kami belum sempat mewawancara dan menulis laporan," ujar dia di kantornya, Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019.  

    Kala itu, kata Nurcahyo, KNKT mesti merampungkan laporan awal investigasi kecelakaan itu dalam 30 hari setelah kecelakaan terjadi. Adapun Lion Air JT610 jatuh pada 29 Oktober 2019. Pada saat bersamaan, ia mengatakan KNKT juga masih disibukkan dengan aktivitas lain, misalnya mencari kotak hitam pesawat nahas tersebut.

    "Sehingga, yang kami utamakan saat itu adalah mewawancara kru yang aktif," tutur Nurcahyo. Ia mengatakan pilot ketiga itu baru bisa diwawancara setelah laporan pendahuluan rampung. Sehingga, informasi mengenai pilot tersebut baru terkuak di masyarakat belakangan ini.

    Nurcahyo berujar lembaganya memanggil pilot ketiga itu untuk mencari tahu apa yang dilihat dan didengar awak pesawat saat Boeing PK-LQP mengalami gangguan setelah digantinya angle of attack sensor. "Kalau ada peringatan apa yang muncul dan bagaimana kerjasama antara kapten dan kopilot, serta suasana apa yaang dirasakan, itu yang kami harapkan," ujar dia. 

    Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menambahkan, saat ini lembaganya telah mewawancarai pilot ketiga tersebut. Namun, sesuai dengan Undang-undang No 1 Tahun 2009, pernyataan dari seseorang yang diperoleh selama proses investigasi tidak boleh dipublikasikan. "KNKT tidak akan menyampaikan hasil wawancara tersebut," dia menegaskan.

    Dalam kesempatan yang sama, Soerjanto membenarkan keberadaan pilot di kokpit pada penerbangan JT-043 tersebut. Dia mengatakan pilot tersebut baru saja selesai menjalankan tugas terbang dan akan kembali ke Jakarta. Selain itu, pilot ketiga itu juga memiliki kualifikasi sebagai pilot Boeing 737 Max 8. Namun, KNKT tidak mau memberikan informasi mengenai identitas sang pilot.

    Malam sebelum jatuh dalam penerbangannya menuju Pangkalpinang, pesawat Lion Air dengan nomor registrasi PK LQP itu sempat terbang dari Bandara Ngurah Rai, Bali ke Jakarta. Pesawat sempat mengalami masalah pada malam itu. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bagi-bagi Jatah Menteri di Komposisi Kabinet Jokowi

    Partai koalisi pemerintah membahas komposisi kabinet Jokowi - Ma'ruf. Berikut gambaran komposisi kabinet berdasarkan partai pendukung pasangan itu.