Santripreneur Dilatih Melek Teknologi Hadapi Industri 4.0

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kegiatan sosialisasi program santripreneur di Solo,Jawa Tengah.(IPI)

    Kegiatan sosialisasi program santripreneur di Solo,Jawa Tengah.(IPI)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian berupaya menciptakan wirausaha santri atau santripreneur yang melek teknologi guna menghadapi era industri 4.0 berbasis teknologi digital. Sebab, pondok pesantren memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) nasional yang berdaya saing di kancah global.

    Baca juga: Intip Program Banyuwangi untuk Santripreneur

    “Beberapa waktu lalu, kami sudah melalukan pelatihan perdagangan online untuk pelaku IKM. Target selanjutnya adalah menciptakan wirausaha santri yang juga bisa melek digital,” kata Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) kemenperin Gati Wibawaningsih lewat keterangannya di Jakarta, Selasa, 19 Maret 2019.

    Dalam implementasi program Santripreneur, Kemenperin memiliki dua model dalam penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di ponpes, yaitu model Santri Berindustri dan Santri Berkreasi.

    Santri Berindustri merupakan upaya pengembangan unit industri yang telah dimiliki oleh pondok pesantren maupun penumbuhan unit industri baru yang potensial.

    Sedangkan, model Santri Berkreasi merupakan program kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih. Mereka berasal dari beberapa ponpes yang dilatih menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi dan multimedia sesuai standar industri saat ini.

    Program santripreneur merupakan salah satu wujud konkret dari upaya pemerintah saat ini dalam menumbuhkan jiwa wirausaha di kalangan para santri.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?