Go-Jek Masih Bicara dengan KAI Soal Pengemudi Mangkal di Stasiun

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kemacertan panjang terlihat di depan Stasiun Palmerah akibat dari para tukang ojek yang menawarkan jasanya kepada sejumlah penumpang hingga ke badan jalan di Jakarta, (31/10). Tempo/Tony Hartawan

    Kemacertan panjang terlihat di depan Stasiun Palmerah akibat dari para tukang ojek yang menawarkan jasanya kepada sejumlah penumpang hingga ke badan jalan di Jakarta, (31/10). Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan teknologi, Go-Jek Indonesia, masih melakukan pembicaraan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) perihal penyediaan shelter dan petunjuk lokasi penjemputan penumpang untuk para mitra pengemudi mereka. Pembicaraan dilakukan untuk mengatasi kemacetan yang kerap timbul di pintu stasiun karena adanya beberapa pengemudi Go-Jek yang mangkal menunggu penumpang.

    BACA: Go-Jek Mangkal Bikin Macet? Ini Respon Pimpinan Go-Jek

    Stasiun yang dimaksud yaitu seluruh stasiun milik PT KAI yang melayani perjalanan kereta Commuter Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). "Melalui proses ini, Go-Jek ingin memastikan masyarakat mendapat kenyamanan saat harus berpindah moda transportasi," kata Vice President Corporate Affairs Go-Jek Indonesia, Michael Say dalam keterangannya kepada Tempo di Jakarta, Kamis, 7 Maret 2019.

    Sejak November 2018, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono menilai kondisi pintu masuk dan keluar stasiun Kereta Commuter Line Jabodetabek saat ini sangat berantakan karena ojek online yang bergerombol. Dia pun meminta operator aplikasi ojek online segera berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait masalah ini.

    BACA: GoJek dan Astra Bikin Perusahaan Patungan Demi Kembangkan Go-Car

    Sementara, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga telah meminta kepada para pengemudi ojek onlina yang sering mangkal di kawasan Sudirman-Thamrin dan kawasan perkantoran lainnya untuk menghilangkan kebiasaan itu. "Pemilik usaha ojek online juga mulai pikirkan tempat untuk transit dan penjemputan. Kalau mangkal seperti ini terus akan menimbulkan masalah," ujar Anies di Jakarta, Ahad, 22 Juli 2018.

    Walau demikian, titik kemacetan akibat kebiasaan mangkal dari pengemudi ojek online ini tetap terjadi. Salah satunya di Jalan Palmerah Timur, di depan Stasiun Palmerah. Di sana, beberapa pengemudi ojek online mangkal di pinggir jalan di bawah jembatan turun dan naik ke stasiun. Kondisi ini menyumbang kemacetan di jalan tersebut ketika pagi dan sore hari.

    Menurut Michael, Go-Jek pada prinsipnya siap menaati peraturan yang ada dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi yang terbaik. Bagi Go-JeK, kata Michael, kenyamanan dan kemudahan pelanggan dalam menggunakan layanan merupakan hal yang terus dijaga. Untuk saat ini pun di beberapa tempat-tempat keramaian, Go-Jek juga sudah memiliki shelter dan pick up points yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna mereka.

    Sementara, Senior Manager Corporate Affairs Go-Jek Indonesia, Alvita Chen menyebut mengurangi kemacetan tersebut sebenarnya bukan hanya tugas dari Go-Jek, namun juga tugas dari sejumlah instansi terkait. Penyediaan shelter, kata dia, hanyalah satu solusi yang ditawarkan. "Tapi shelter saja kan tidak cukup (mengatasi kemacetan)," ujarnya, Rabu, 6 Maret 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.