Meski Murah, Bisnis Logistik Via Laut Belum Diminati Pengusaha

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas Kapal Floating Storage & Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat di perairan Laut Jawa, 4 Januari 2018. Kargo ini merupakan pengiriman perdana dari PT. Pertamina Hulu Mahakam yg mengoperasikan blok Mahakam per 1 Januari 2018 lalu. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas Kapal Floating Storage & Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat di perairan Laut Jawa, 4 Januari 2018. Kargo ini merupakan pengiriman perdana dari PT. Pertamina Hulu Mahakam yg mengoperasikan blok Mahakam per 1 Januari 2018 lalu. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekpres, Pos dan Logistik (Asperindo) menilai pengangkutan barang logistik via laut belum menjadi alternatif untuk pengusaha. Meski cost lebih rendah dari angkutan udara, pengiriman jalur laut menguras waktu yang lebih lama.

    Simak: Empat Perusahaan Logistik Bangkrut Akibat Tarif Kargo Udara Mahal

    "Untuk sekarang, jalur laut belum menjadi pilihan yang memudahkan," ujar Wakil Ketua Asperindo Budi Prayanto saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu 27 Februari 2019.

    Budi menyontohkan perbandingan pengiriman barang antara via angkutan via udara dan laut dari Jakarta ke Banjarmasin. Jika melalui udara dalam satu 24 jam barang sudah tiba di Banjarmasin, sedangkan jalur laut jika dikirim hari ini besok sore baru sampai dan baru bisa diantarkan lusa paginya, untuk keterlambatan satu hari tersebut masih bisa ditolerir.

    Namun kata Budi jika dalam pengiriman tersebut terkadang memakan waktu yang lebih lama akibat antri bongkar barang hingga dua sampai tiga hari di pelabuhan.

    Menurut Budi hal tersebut terjadi lantaran terbatasnya dermaga yang ada di beberapa pelabuhan di Indonesia. "Terkadang harus antri dengan kapal Pelni atau kapal yang membawa sembako dan sampai dua atau tiga hari barang kami baru bisa dibongkar," ujarnya.

    Budi menyebutkan secara lokasi pembangunan pelabuhan yang digencarkan oleh pemerintah sudah bagus namun fasilitas pendukung pelabuhan belum cukup mengakomodasi konektifitas laut. Belum lagi, kata dia, regulasi yang tidak ramah.

    Dia pun menyarankan agar ada dermaga khusus untuk logistik di setiap pelabuhan agar tidak ada lagi memakan waktu bongkar barang yang berhari-hari

    Padahal kata Budi sekitar 50 persen perusahaan jasa pengiriman barang yang tergabung di Asperindo sudah beralih ke jalur laut akibat tarif kargo logistik angkutan udara yang mahal. "50 persen sudah beralih ke laut atau ke darat," ujarnya.

    Budi menuturkan ada selisih cost cukup besar antara pengiriman via angkutan udara dengan laut. "Selisihnya lebih murah 100 persen karena dihitung per kubik kalau udara kan perkilo," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.