Kisah JK Soal Bisnisnya yang Hampir Bangkrut Digilas Teknologi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerahkan Pemberian Apresiasi dan Penganugrahan Zona Integritas menuju WBK/WBBM Tahun 2018 di Hotel Sultan Jakarta, Senin, 10 Desember 2018. Foto: KIP Setwapres

    Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerahkan Pemberian Apresiasi dan Penganugrahan Zona Integritas menuju WBK/WBBM Tahun 2018 di Hotel Sultan Jakarta, Senin, 10 Desember 2018. Foto: KIP Setwapres

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK meminta agar kesalahannya tidak diulangi lagi oleh generasi sekarang. Kesalahan yang pernah dilakukan JK adalah tidak percaya teknologi.

    Baca: Persaingan Kian Ketat, JK: Konsolidasi Bank Bakal Terus Terjadi

    Saat menghadiri sebuah seminar di Amerika Serikat pada 1990-an, JK mengatakan ada seorang profesor yang menyebut bahwa semua transaksi terjadi di saku. "Saya pikir profesor ini ngomong apa. Waktu itu sudah mulai ada telepon wireless, tapi yang ditenteng. Bangga itu bawa kalau di restoran bawa di meja. Bagaimana caranya di kantong?" kata JK dalam seminar nasional di Perbanas Institute, Jakarta, Rabu, 27 Februari 2019.

    Di saat itu, JK mengaku juga sedang berinvestasi di bidang telekomunikasi. Ia melakukan kerja sama operasional dengan investor Singapura untuk mengembangkan telekomunikasi di Indonesia Timur. "Investasi cukup besar pada waktu itu. Investasi US$ 400 juta," katanya.

    Sekitar tahun 2000-an, JK mengatakan banyak pihak yang tergabung dalam kerja sama operasional itu mulai menjual bisnisnya. Namun, JK masih ragu-ragu bahwa telepon kabel mulai ditinggalkan. Akhirnya, JK tetap bertahan pada bisnis itu hingga menyadari bahwa tidak ada lagi orang yang memakai telepon kabel.

    "Dan semua transaksi semua sekarang lewat saku, maka macet lah semua bisnis itu. Jadi itu pengalaman keterlibatan teknologi bisa mengubah semua sistem," katanya.

    Menurut JK, jika pengusaha tidak memperhatikan perubahan seperti itu dipastikan akan terjadi masalah. Pasalnya, kata JK, perubahan kini sudah terjadi di bidang ekonomi. "Karena adanya perubahan-perubahan itu. Jadi perlu adanya suatu rethinking atau evaluasi atau reorientasi. Dari pada semua peran bisnis yang terjadi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.