Cerita Sandiaga Soal Sepinya Jalan Tol Cipali Setelah Diresmikan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno menyapa masyarakat saat kunjungan di Kampung Nelayan Pasir Putih, Cilamaya Kulon, Karawang, Jawa Barat, Kamis 3 Januari 2019. Dalam kunjungannya Sandiaga Uno menjelaskan perlindungan dalam bidang kelautan harus meningkatkan kesejahteraan para nelayan seperti asuransi dan pendanaan. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

    Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno menyapa masyarakat saat kunjungan di Kampung Nelayan Pasir Putih, Cilamaya Kulon, Karawang, Jawa Barat, Kamis 3 Januari 2019. Dalam kunjungannya Sandiaga Uno menjelaskan perlindungan dalam bidang kelautan harus meningkatkan kesejahteraan para nelayan seperti asuransi dan pendanaan. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno berbagi kisah soal lamanya proses pembangunan dan susahnya menarik minat masyarakat untuk menggunakan Tol Cikopo-Palimanan atau Tol Cipali.

    Baca juga: Mardani Sebut Survei Internal Elektabllitas Prabowo Dekati Jokowi

    "Saya mengerti detail sekali," kata Sandiaga dalam acara Rabu Biru "Outlook Ekonomi Indonesia 2019" di Rumah Media Center Prabowo -Sandiaga, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 9 Januari 2019.

    Sebelumnya, gara-gara Tol Cipali inilah Sandiaga sempat dianugerahkan piagam "kebohongan award" dari Partai Solidaritas Indonesia. Sandiaga sempat menyebut bahwa Tol Cipali dibangun tanpa utang. Tapi Sandiaga telah menegaskan bahwa yang dimaksud adalah tanpa utang pemerintah, bukan tanpa utang sama sekali.

    Tempo mengkonfirmasi hal ini kepada Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Herry Trisaputra Zuna. Herry menyampaikan klarifikasi yang sama dengan yang disampaikan Sandiaga. Pemerintah sama sekali tidak mengeluarkan dana dana sepeser pun apalagi berutang untuk pembangunan Tol Cipali.

    Menurut Herry, 70 persen sumber pembiayaan berasal dari kredit sindikasi perbankan dan sisanya dari kas internal badan usaha pelaksana, PT Lintas Marga Sedaya. Nah, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, yang sebagian sahamnya dimiliki Sandiaga pun, pernah mengantongi saham di PT Lintas Marga Sedaya ini sebelum akhirnya dijual ke salah satu anak usaha dari Grup Astra.

    Sandiaga bercerita, bahwa Tol Cipali sebenarnya akan dibangun di masa Presiden Soeharto. Proyek tol ini dihentikan di masa Presiden Habibie, lalu direvitalisasi di masa Presiden Gus Dur, dan dimatangkan di masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Barulah pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pembangunan dimulai tepatnya pada tahun 2011 ketika dilakukan peletakan batu pertama alias ground breaking.

    "Itu pun kami mesti harus tunggu 2 tahun sampai 2,5 tahun setelah eksekusi." Masalah lambatnya pembangunan jalan tol adalah pembebasan lahan yang tak kunjung beres. "Pemerintah harusnya hadir di pembebasan lahan, kalau konstruksi sih (oleh swasta) mudah." Setelah empat tahun, barulah pembangunan selesai dan diresmikan Jokowi pada 2015.

    Setelah diresmikan, persoalan belum selesai. Di tahun-tahun pertama usai peresmian, kata Sandiaga, Tol Cipali cukup sepi karena kendaraan masih terbiasa melewati jalur pantai utara jawa alias pantura. Saat itu pun, Sandiaga menyebut cash flow atau arus kas perusahaan sempat jebol. Tapi ia tidak merinci apakah yang dimaksud Saratoga Investama atau Lintas Marga Sedaya.

    Walhasil, kata Sandiaga, insentif pun diberikan agar truk-truk yang biasa melewai jalur pantura bisa berhasil melewati Tol Cipali. Barulah pelan-pelan jalan tol ini ramai dan dilintasi kendaraan. Akan tetapi, kata Sandiaga , upaya itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.  

    Setiap harinya jalan tol Cipali sepanjang 116 kilometer itu dilintasi sekitar 27 ribu kendaraan. Tol Cipali adalah bagian dari jalan tol Trans Jawa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.