BUMN: Struktur Keuangan Pertamina Jauh Tertinggal dari Petronas

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para awak media dan karyawan Pertamina tengah melihat video mapping di kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Kamis, 5 Juli 2018. Penampilan video mapping ini untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games 2018. Tempo/Tony Hartawan

    Para awak media dan karyawan Pertamina tengah melihat video mapping di kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Kamis, 5 Juli 2018. Penampilan video mapping ini untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games 2018. Tempo/Tony Hartawan

    Jakarta -  Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara Fajar Sampurno mengatakan kemampuan struktur keuangan PT Pertamina (Persero) masih di bawah perusahaan energi nasional di negara lain. Karena itu, pemerintah tengah mengupayakan terwujudnya perusahaan holding BUMN minyak dan gas.

    Baca juga: Darmin Nasution Minta Pertamina Tak Setengah - setengah Soal B20

    "Kemampuan struktur keuangan Pertamina jauh tertinggal dari negara lain, misalnya dari Petronas," ujar Fajar di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu, 28 November 2018.

    Padahal, Fajar mengatakan Pertamina merupakan perusahaan nomor 4 terbesar apabila ditinjau dari jumlah aset. Sementara kalau dilihat dari penerimaan alias revenue, perusahaan energi pelat merah itu tercatat sebagai nomor wahid.

    Dengan mewujudkan perusahaan holding BUMN migas, Pertamina bakal mendapatkan sokongan keuangan anyar untuk bisa berkompetisi dengan perusahaan lain. Perseroan, kata Fajar, bakal mendapat pengalihan saham pemerintah atau penyertaan modal pemerintah sebesar Rp 38 triliun dan dana segar hampir Rp 17 triliun.

    "Dengan tambahan Rp 54 triliun, Pertamina diharapkan dapat meningkatkan investasi dan mengembangkan berbagai program," ujar Fajar. Duit itu, menurut dia, dapat dimanfaatkan untuk memacu energi baru terbarukan, maupun untuk membangun kilang konversi kelapa sawit.

    Guna memacu pengembangan perusahaan di berbagai sektor, Fajar berharap Pertamina tidak sendirian. Perseroan diminta membuka diri di dalam dan luar negeri. "Bisa dengan BUMN lain seperti PLN hingga LEN, bisa juga dengan mitra luar negeri," kata Fajar.

    Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan perseroan telah memiliki pelbagai rencana pengembangan bisnis ke depan dalam rangka mengoptimalkan kekayaan alam Indonesia.

    "Misalnya terkait biofuel, saat ini kami tengah menjajaki studi pembangunan Green Refinery di Indonesia, yaitu kilang yang khusus mengolah vegetasi seperti sawit, tebu dan lainnya menjadi biofuel," kata Nicke. 

    Pertamina, ujar Nicke, juga banyak berdiskusi soal teknologi coal gasification guna memanfaatkan batubara sebagai dimethyl ether yang dapat dicampur dengan elpiji dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga. "Sebagai sinergi BUMN, kami juga menggandeng PT Bukit Asam Tbk."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...